“Imlek” sekedar Tradisi atau Ritual Agama TAO ???

Imlek Tradisi Budaya / bukan

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com
Diskusi antara SkyC &  SHAN MAO, pada April 2007.

Pada kesempatan ini ijinkanlah saya menanyakan mengenai Perayaan “Imlek”, apakah “Imlek” itu hanya sekedar Perayaan Tradisi Kebudayaan atau memiliki nilai Agamais tertentu ?    Karena ada beberapa pihak yang menterjemahkan makna “Imlek” dengan beberapa versi yang berbeda2.

Dibawah ini merupakan contoh2 dari artikel2 yang memaknai Imlek” dengan maksud yang berbeda2 tersebut.

Imlek adalah Religi dan Tradisi Konfucian (Rujiao/Kongjiao) : Di Tiongkok terdapat dua jenis kalender yaitu kalender Tradisional yang biasa disebut Agricultural Calendar” (?? Nónglì, ??) dan kalender Gregorial dan biasa disebut kalender Umum (?? G?nglì, ??) atau Kalender Barat (?? X?lì, ??).    Nama lain dari kalender Tionghoa adalah kalender “Yin” (?? Y?nlì, ??), yang dihitung atas dasar perhitungan bulan.    Sedangkan kalender Gregorian disebut kalender “Yang”(?? Yánglì, ??) yang dikaitkan pada perhitungan matahari.

Kalender Tionghoa disebut kalender lama (?? Jìulì, ??) sedangkan kalender Gregorian disebut kalender baru (?? X?nlì, ??). Kalender Imlek (Yinli) adalah kalender yang dihitung mulai dari tahun lahirnya Nabi Kongzi tahun 551 SM.    Jadi tahun 2007 ini berarti tahun 551 + 2007 = 2558 Imlek.    Karena awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Sang Nabi, maka kalender Imlek juga disebut Khongcu-Lek.

Kalender Imlek pertama kali diciptakan oleh Huang Di, seorang Nabi/Raja Agung dalam Agama Ru Jiao/Khonghucu.    Lalu kalender ini diteruskan oleh Xia Yu, sorang Raja Suci/Nabi dalam Agama Khonghucu, pada Dinasti Xia (2205-1766SM).   Dengan jatuhnya dinasti Xia dan diganti oleh Dinasti Shang (1766-1122 SM), maka system kalendernya juga berganti.   Tahun barunya dimulai tahun 1 dan bulannya maju 1 bulan sehingga kalau kalender yang dipakai Dinasti Xia, tahun baru jatuh pada awal musim semi, maka pada Dinasti Shang tahun barunya jatuh pada akhir musim dingin.

Dinasti Shang lalu diganti oleh Dinasti Zhou (1122-255SM) dan bergantilah system penanggalannya juga.   Tahun barunya jatuh pada saat matahari berada di garis 23,5 derajat Lintang Selatan yaitu tanggal 22 Desember saat puncak musim dingin.   Dinasti Zhou lalu diganti Dinasti Qin (255-202SM). Berganti pula sistemnya.   Begitu pula ketika Dinasti Qin diganti oleh Dinasti Han (202SM-206M).   Pada jaman Dinasti Han, Kaisar Han Wu Di yang memerintah pada tahun 140-86 SM lalu mengganti system kalendarnya dan mengikuti anjuran Nabi Kongzi/Konghucu, untuk memakai system Dinasti Xia.

Dan sebagai penghormatan atas Nabi Kongzi/Konghucu, maka tahun kelahiran Nabi Kongzi 551 SM ditetapkan sebagai tahun ke-1.   Dengan demikian penanggalan Imlek adalah milik Umat Khonghucu.   Selain sebagai kalender umat Khonghucu, orang Tionghoa di seluruh dunia juga berhak untuk merayakan Tahun Baru Lunar (Imlek) bersama-sama.   Karena pengaruh Ajaran/Agama Khonghucu juga melebar ke Asia Timur dan Tenggara.   Maka bangsa2 dan lain seperti Vietnam, Jepang, Mongolia, Korea, Tibet, Myanmar dan Asia Tenggara juga merayakan Imlek dengan nama yang berbeda-beda seperti Tet / Nguyen-Dan (Vietnam), Oshogatsu (Jepang), Sol Nal (Korea), Lo Sar (Tibet), dll.   Jadi Imlek juga milik dunia.

Imlek adalah peristiwa “Religi”.   Pada malam menjelang Tahun Baru setelah Umat makan malam bersama dengan keluarga, keluarga melakukan sembahyang pada pukul 23.00- 01.00 (saat Cu Si) dengan Tiam Hio, kecuali bagi mereka yang memiliki nazar/janji, wajib melakukannya dengan persembahyangan altar lengkap.   Mereka mengucapkan puji syukurnya karena telah melewati hari-hari dengan baik, baik yang menggembirakan maupun yang menyusahkan sepanjang tahun.   Umat bersembahyang memohon ampun atas kegagalan atau kesalahan yang pernah dilakukan sambil merenungkan untuk menyongsong tahun baru yang akan dijalani.

Tahun baru Imlek biasanya berlangsung sampai 15 hari. Pada malam tanggal 8 menjelang tanggal 9 pada saat Cu Si (pk. 23.00-01.00) Umat melakukan sembahyang lagi.   Sembahyang ini disebut Sembahyang “King Thi Kong” (Sembahyang Tuhan Allah) dan dilakukan di depan pintu rumah menghadap langit lepas dengan menggunakan altar yang terbuat dari meja tinggi berikut sesaji, berupa Sam-Poo (teh, bunga, air jernih), Tee-Liau (teh dan manisan 3 macam), Mi Swa, Ngo Koo (lima macam buah), sepasang Tebu, dan tidak lupa beberapa peralatan seperti Hio-Lo (tempat dupa), Swan-Loo (tempat dupa ratus/bubuk), Bun-Loo (tempat menyempurnakan surat doa) dan Lilin Besar. Boleh dilakukan sendiri-sendiri ataupun bersama-sama.

Pada tanggal 15 Imlek saat bulan purnama, Umat melakukan sembahyang penutupan tahun baru pada saat antara Shien Si (pk.15.00-17.00) dan Cu Si (pk.23.00-01.00).   Upacara sembahyang dengan menggunakan Thiam hio atau upacara besar ini disebut Sembahyang Gwan Siau (Yuanxiaojie).   Sembahyang kepada Tuhan adalah wajib dilakukan, tidak saja pada hari-hari besar seperti di atas, namun setiap hari pagi dan malam, tanggal 1 dan 15 Imlek dan hari-hari lainnya.

Tersurat Nabi (Kongzi) bersabda, “Sungguh maha besarlah kebijakan Kwi Sien (Tuhan Yang Maha Roh).   Di lihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia.   Demikianlah menjadikan Umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati, menggunakan pakaian lengkap dan sujud bersembahyang kepada Nya.  Sungguh maha besar Dia (Thian) rasanya di atas kanan kiri kita.   Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia.” (Zhong Yong XV : 1-5)

Di Tiongkok yang dulu adalah sebagai Negara Agraris, mata pencaharian mayoritas penduduknya adalah bertani.   Maka mereka menyambut dengan suka cita datangnya musim semi (Chunjie) sebagai permulaan tahun baru sehingga mereka selalu bersembahyang kehadapan Tuhan mengucapkan puji syukurnya selama perjalanan setahun penuh serta memohon diberikan rahmat dan hidayat dalam tahun mendatang.

Seperti yang dikemukakan terdahulu orang Tionghoa di Tiongkok adalah keturunan Kaisar Huang Di, dan Para Kaisar/Nabi Suci Purba lainnya berAgama Ru jiao (kemudian disebut Kongjiao).   Maka bisa dikatakan tradisi yang berlangsung turun temurun sampai hari ini adalah Tradisi Ru Jiao atau Kong Jiao/Khonghucu.   Jadi, selain mengandung Makna Religi, Tahun Baru Imlek adalah juga Tradisi Rujiao/Khonghucu.

Dalam perkembangan selanjutnya masuklah agama-agama lain ke Tiongkok dan agama-agama ini seringkali harus mengadaptasi serta berakulturasi dengan Tradisi dan Religi Rujiao/Kongjiao untuk bisa diterima masyarakat local pada saat itu.   Maka mereka pun lantas mengklaim Para Kaisar/Nabi-Nabi Suci Purba Konfuciani, sebagai Nabi mereka dan Tahun Baru Imlek sebagai tahun barunya juga.

Padahal dalam dogma agama mereka ada terjadi persentuhan yang secara dogmatis tidak bisa diterima, namun karena “Ego”nya, mereka memaksakan klaim bahwa Religi dan Tradisi Konfucian yang ada dalam makna Tahun Baru Imlek adalah menjadi milik mereka.   Maka tidaklah heran sekarang ada kebaktian-kebaktian Imlek di tempat ibadah Non Konfuciani.

Dan lebih buruknya, mereka sebagai panutan/tokoh umat/masyarakat, lalu mengeluarkan pernyataan bahwa Imlek adalah sekedar Tradisi dan Budaya semata.   Begitu pula adanya pernyataan/kotbah yang dihembuskan bahwa Nabi Kongzi adalah hanya seorang Moralis dan Filsuf, sehingga mereka sah-sah saja kalau berupaya mengkonversi Agama Khonghucu dengan agama mereka.

Ini adalah tendensi yang sangat buruk yang terjadi di Indonesia, sampai-sampai di Jakarta ada Anggota Komunitas Budhis yang terpaksa harus menggugat di pengadilan atas ucapan Agamawan Non Budhis.   Sudah ada UU yang sah yang mengayomi 6 agama termasuk Khonghucu serta agama-agama lain di luar 6 agama resmi tersebut.

Demikianlah semoga Indonesia kita bisa tersenyum melihat keBhinekaragaman Budaya, Tradisi, dan Agama.   Jangan biarkan Indonesia harus meneteskan air mata hanya semata-mata egoisme seseorang/sekelompok orang yang memaksakan agamanya kepada mereka.   Apalagi menjustifikasi bahwa agama tertentu sajalah agama super yang bisa diterima Tuhan.   Mari kita jadikan momen Imlek sebagai perekat kesatuan bangsa, selain momen-momen lainnya dalam Agama/Tradisi lainnya. Kita mesti menghormati Orang/Umat Khonghucu yang menjunjung tinggi Agama dan Nabinya, serta menganggapnya sebagai Nabi dan Agama Khonghucu.   Begitu pula harus dihormati Imlek sebagai Acara/Peristiwa keAgamaan.

Ada satu lagi nih…, kali ini menggunaan IMLEK untuk memecah belah Bangsa dan Umat Beragama !!! Imlek di Indonesia tidak ada kaitannya dengan musim semi, musim panas, musim rontok maupun musim dingin di daratan Tiongkok, karena di Indonesia hanya ada musim panas dan musim hujan.   Sejak dahulu masyarakat Tionghoa hanya mengenal Imlek sebagai tahun barunya orang Tionghoa, Idul Fitri sebagai Hari Raya Umat Islam, Natal perayaannya orang Kristen/Katolik dan tahun baru Masehi sebagai tahun baru orang Belanda, sehingga disebut tahun baru Belanda.

Mayoritas masyarakat Tionghoa dan Non Tionghoa nyaris tidak pernah merayakan tahun baru Masehi.   Bagi masyarakat Tionghoa tahun baru Imlek erat kaitannya dengan Sembahyang Tahun Baru, sembahyang Tuhan Allah, sembahyang di klenteng, pakaian baru, makan enak bersama keluarga, paycia, angpao, barongsay, petasan, kue keranjang dan capgome berikut gotong tepekong.

Imlek di Indonesia telah dirayakan oleh masyarakat Tionghoa sejak zaman kolonial Belanda, demikian juga di zaman Republik sampai jatuhnya pemerintahan Presiden Sukarno dan digantikan oleh pemerintahan Orde Baru yang sangat represif.

Pada 6 Desember 1967, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina.   Dalam instruksi tersebut ditetapkan bahwa seluruh Upacara Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup.   Instruksi Presiden ini bertujuan melikuidasi pengaruh seluruh Kebudayaan Tionghoa termasuk Kepercayaan, Agama dan Adat Istiadatnya.   Dengan dikeluarkannya Inpres tsb, seluruh Perayaan Tradisi dan Keagamaan Etnis Tionghoa termasuk Tahun Baru Imlek, Capgome, Pehcun dan sebagainya dilarang dirayakan secara terbuka.   Demikian juga tarian Barongsai dan Liong dilarang dipertunjukkan.

Dengan adanya Inpres No.14/1967 ditambah dengan diterbitkannya SE Mendagri No.477 tahun 1978 yang menolak pencatatan perkawinan bagi yang Beragama Khonghucu dan penolakan pencantuman Khonghucu dalam kolom Agama di KTP, terjadi eksodus dan migrasi sebagian orang Tionghoa ke dalam Agama Kristen, Katolik, Budha bahkan ke Islam.    Demikian juga seluruh Ritual Kepercayaaan, Agama dan Adat Istiadat Tionghoa menjadi surut dan pudar.

Malahan Imlek dijauhi dan diharamkan oleh sebagian masyarakat Tionghoa yang telah memeluk agamanya yang baru.   Liong dan Barongsai dinyatakan sebagai setan yang harus dijauhi, demikian juga Ritual Sembahyang Tahun Baru Imlek dan penggunaan hio dllnya diharamkan.   Generasi Muda Tionghoa sudah tidak mengenal dan merasakan lagi makna “Imlek”.

Malahan DPP Walubi mengeluarkan surat edaran No.07/DPP-WALUBI/KU/93 tanggal 11 Januari 1993 yang menyatakan bahwa Imlek bukan merupakan Hari Raya Agama Budha dan melarang Vihara-Vihara Mahayana merayakan Imlek.

Di zaman kolonial dan di masa pemerintahan Presiden Sukarno, perayaan Imlek di Jakarta dimulai dengan Pasar Malam di Pancoran/Toko Tiga beberapa hari sebelum Tahun Baru.    Yang dijual adalah segala keperluan Imlek seperti Ikan Bandeng, Kue Keranjang, Pernak-pernik Imlek, Kembang Sedap Malam dsbnya.   Selama dua minggu masyarakat Tionghoa merayakan Imlek lengkap dengan Petasan dan Kembang api, Barongsai, Tanjidor, Gambang Keromong, Gotong Tepekong dan puncak acaranya Capgome di Glodok.

Puluhan ribu penduduk Jakarta keluar dari kampung-kampung tempat tinggalnya, baik Tionghoa maupun bukan, bersama-sama menari dan menyanyi dalam lingkaran-lingkaran tambang menuju Glodok.    Jadi tidak benar dan menyesatkan bahwa Imlek, baru berlangsung semarak dan dilakukan secara terbuka pasca reformasi 1998.

Pada 17 Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres N0.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa.   Dengan dikeluarkannya Keppres tersebut, masyarakat Tionghoa sekarang diberi kebebasan untuk merayakan Upacara-upacara Agama dan Adat Istiadatnya seperti Imlek, Capgome dan sebagainya secara terbuka.

Demikian juga Kebudayaan Tionghoa yang selama ini dilarang, termasuk Atraksi Liong dan Barongsai, bebas dipertunjukkan di muka umum.  Kemudian disusul dengan pencabutan larangan barang-barang cetakan dalam Bahasa Tionghoa sehingga berbagai koran dan majalah Berbahasa Tionghoa bermunculan di kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Pada 19 Januari 2001, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan No.13/2001 yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Fakultatif.   Jadi sekali lagi Menteri Agamalah yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Fakultatif, artinya bagi yang merayakan Imlek sebagai Ritual Agama, diizinkan untuk libur.   Apakah ada Hari Budaya yang dijadikan hari libur fakultatif ?   Pada saat menghadiri perayaan Imlek yang diselenggarakan Matakin pada Februari 2002, Presiden Megawati mengumumkan mulai 2003, Imlek menjadi Hari Nasional.

Pengumuman ini ditindak lanjuti dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tanggal 9 April.   Keppres ini pada awalnya dianggap kontroversial, karena Indonesia hanya mengenal hari nasional yang berkaitan dengan hari-hari penting yang menyangkut kemerdekaan dan hari-hari suci keagamaan dan tidak ada hari nasional yang berkaitan dengan hari raya etnis.   Namun karena Presiden Megawati mengumumkan hal tersebut di muka Umat Khonghucu dan merupakan kelanjutan dari Keputusan Menteri Agama No.13/2001 maka hari Nasional tersebut ditafsirkan sebagai hari keagamaan, sehingga tidak menimbulkan protes dari etnis-etnis lainnya.

Malahan jauh sebelumnya ketika Republik ini baru berdiri, Presiden Sukarno pada tahun 1946 mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946 yang pada pasal 4 nya ditetapkan 4 hari raya orang Tionghoa yaitu Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Nabi Khonghucu ( tanggal 18 bulan 2 Imlek), Ceng Beng dan hari lahirnya Nabi Khonghucu (tanggal 27 bulan 2 Imlek).

Dengan dicabutnya larangan-larangan dan keluarnya keputusan yang menjadikan Imlek Hari Nasional, dengan sendirinya masyarakat Tionghoa dapat merayakannya dengan bebas.   Pada Imlek tahun 2000, Matakin mengambil inisiatif untuk merayakan Imlek sebagai puncak Ritual Agama Khonghucu secara Nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid untuk menghadirinya.   Ternyata perayaan Imlek Matakin ini menarik perhatian Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden-presiden berikutnya, Megawati dan Yudhoyono.

Sebenarnya hal ini tidak mengherankan karena kehadiran para Presiden ini tidak berbeda dengan kehadirannya dalam perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan Umat Kristen/Katholik atau Waisak Umat Budha dan Hari Raya Nyepi umat Hindu Bali.    Adalah tidak adil dan diskriminatif apabila Presiden menghadiri puncak perayaan Umat Islam, Kristen/Katholik,Budha dan Hindu Bali tetapi tidak menghadiri perayaan Umat Khonghucu.   Perayaan Imlek Nasional Matakin telah menjadi tradisi yang setiap tahun selalu dihadiri Presiden Indonesia.

Hal inilah yang membuat tidak senang segelintir orang tertentu yang merasa dirinya menjadi “Tokoh” Tionghoa totok, padahal beberapa tahun terakhir Matakin selalu mengajak tokoh-tokoh Tionghoa totok untuk bersama-sama merayakan Imlek Nasional mendampingi Presiden.   Selaras dengan kebebasan merayakan Imlek, para pelaku bisnis tidak akan melewatkan peluangnya dan menjadikan Imlek sebagai komoditi bisnis.

Seluruh pusat-pusat perdagangan, mal, restoran, caf2 , hotel, media massa baik cetak maupun elektronik berlomba-lomba menjual dan mempromosikan produknya.   Pusat-pusat perbelanjaan dihias secantik-cantiknya dan dipenuhi pernak-pernik Imlek.   Berbagai pertunjukan yang berkaitan dengan Imlek digelar agar menarik para pembeli dan pemirsanya.   Memang Imlek kini bukan hanya milik masyarakat Tionghoa saja , tetapi telah menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia.

Sungguh hal ini sangat menggembirakan, namun melihat hal ini muncul segelintir “Tokoh” Tionghoa totok tersebut yang dahulu ikut mengharamkan Imlek tetapi sekarang ingin berusaha menggunakan Imlek untuk kepentingan pribadinya.   Mereka kemudian merekayasa Imlek menjadi Perayaan Budaya Nasional semata untuk menandingi perayaan nasional yang diselenggarakan Matakin pada tanggal 24 Februari 2007 yang akan datang.

Segala cara mereka tempuh tanpa memikirkan akibatnya yang dapat memecah belah persatuan bangsa, khususnya masyarakat Tionghoa.   Di samping itu menjadikan Imlek yang telah ditetapkan sebagai hari Nasional menjadi Perayaan Budaya semata, berpotensi menimbulkan protes dan tuntutan-tuntutan etnis lainnya yang meminta hari-hari raya etnisnya menjadi Hari Nasional.

Sebagai Penganut Agama TAO, kita sudah tahu jika Perayaan Hari Raya Imlek itu adalah Ritual Agama TAO yang telah menjadi tradisi masyarakat Tionghoa secara turun temurun. Kita juga tahu, bahwa sistim penanggalan Tahunan Baru Imlek juga disebut TAO-LEK ; Nung-Lek ; Huang-Lek yang merupakan sistim penanggalan yang diciptakan oleh KUANG CHEN ZHI (seorang TAO SHI) 2704 tahun yang lalu.   Dalam sistim penanggalan TAO-LEK ini juga dicantumkan cara2 penentuan hari2 penting untuk perhitungan hari baik ; hari untuk bercocok tanam ; hari dimana sudah mulai pergantian musim dsb2, semua itu didasarkan pada ajaran Agama TAO (Yin Yang Wu Xing).

Nah… dengan demikian, kita sebagai Masyarakat Tionghoa harus tahu bahwa sumber perayaan Imlek itu adalah Agama TAO.    Di dalam buku2 Budaya Tiongkok Modern juga disebutkan bahwa “Agama TAO merupakan AKAR UTAMA KEBUDAYAAN TIONGKOK”. Jadi sudah jelas yah…, bahwa Perayaan Imlek merupakan Ritual Agama TAO yang telah berkembang menjadi Tradisi Masyarakat Tionghoa.

Namun ternyata masih saja ada orang2 yang gila gengsi dan terjangkit halusinasi waham kebesaran untuk memelintir fakta demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.   Kalau tahun pertama Imlek sama dengan tahun kelahiran KHC, itu hanya kebetulan saja, karena sebetulnya saat itu sistem penanggalan IMLEK sudah dipakai selama 200 tahun lebih di masyarakat Tionghoa, terutama kelompok Umat TAO.   Karena dalam penanggalan Imlek juga tercantum cara2/bagaimana menentukan hari yang berhubungan dengan Ritual2 Keagamaan TAO, serta Ritual2 Agama TAO yang berhubungan dengan kepentingan hajat kehidupan masyarakat Tionghoa.

Nah, oleh salah seorang Raja dari Dinasty Chow, karena beliau kagum terhadap kegunaan penanggalan IMLEK tsb, akhirnya digunakanlah untuk kepentingan penanggalan di kerajaannya dan dimulai dari tahun 551 SM, oleh Raja ini ditetapkan sebagai tahun 1 (pertama) Imlek, yang ketika itu diberi nama Huang Lik (Kalender Kerajaan).    Dan kebetulan KHC juga lahir ditahun tersebut, sehingga oleh segelintir orang dimanipulasi sebagai penanggalan “KONGLIK”.

Mereka ini sebetulnya terinspirasi oleh cara2 orang barat yang menggunakan sistim penanggalan SM (sebelum masehi/sebelum kristus lahir) dan M (masehi / setelah kristus lahir). Ha… ha… ha…    Dengan tujuan apa ???    Yah… ngak usah dikupas plontos disini lagi deh…. Ha… ha… ha…

Jadi cukup untuk kita ketahui saja bahwa : Sistim penanggalan IMLEK/TAOLIK adalah diciptakan oleh Tokoh Agama TAO (KUANG ZHEN ZHI) 2704 tahun yang lalu, dan sistim penanggalan ini pada awalnya memang diciptakan selain untuk mempermudah perhitungan hari yang terpenting dan untuk membantu mempermudah perhitungan hari2 yang berhubungan dengan Ritual KeAgamaan Agama TAO.

Nah… soal isi artikel lainnya, sepertinya ngak perlu diulas lebih lanjut, karena Ajaran KHC jelas tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan/Dewa/Dewi, Beliau justru murni hanya mengajarkan tentang Tata Krama/Etika Hidup antar umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat saja !!!    Itu berdasarkan apa yang dapat dibaca dari Kitab SHI SHU U CING yang sebenarnya, bukan hasil modifikasi ke arah bau2 Agamis lho !!! Ha… ha… ha…

Itulah sebabnya di RRC sana ngak ada yang namanya Agama KHC, karena justru mereka hanya tahu Agama TAO yang betul2 merupakan Agama yang komplit, termasuk didalamnya menganggap KHC sebagai salah satu Dewa Agama TAO.    Sudahlah, nanti dikira ingin berebutan KHC buat Agama TAO, padahal semua itu memang keadaan yang terjadi di negara kelahiran KHC sono lho !!!

Mau percaya atau tidak sekarang ini, yang terpenting coba cari tahu data2 yang lebih konkrit tentang KHC yang sebenarnya, bila perlu sampai “sumber”nya di Tiongkok.    Nah… kalau saja kita semua bisa meluruskan tentang apa sebenarnya asal-usul sistem Penanggalan Imlek secara jujur dan terbuka.    Maka jelas… peristiwa seperti di dalam tulisan kedua itu (imlek di Indonesia) tidak akan terjadi !!!

Selanjutnya kita juga harus waspada, karena akhir2 ini banyak oknum2 dari agama tertentu yang berusaha memutar balikkan fakta, demi ambisi keserakahan berebut Umat. Mereka berusaha mengatakan bahwa “Perayaan Imlek” hanyalah suatu tradisi, tanpa menyebutkan sumber2nya. Hal ini justru telah menunjukkan sifat jahat dan liciknya oknum2 dari agama tersebut.

Kalau saja Pemerintah negara kita ini mau konsekuen, maka sudah seharusnya menghukum aliran agama yang oknum2nya telah bertindak tanpa punya etika hidup bermasyarakat itu. Sebab jika oknum2 dari agama itu dibiarkan berkeliaran, bagaimana bisa tercipta kehidupan toleransi antar Umat Beragama di negara kita !!!

Tags: , , , , , , , , , , , ,  

4 Comments

  1. Ellyawati Tan

    Saya beragama Katolik, tapi orang tua saya beragama Kong Hu Cu. Ayah saya sudah meninggal, kini saya ingin meneruskan tradisi sembahyang untuk leluhur. Tapi saya kesulitan mencari jadwal hari2 besar ritual agama Kong Hu Cu. Yang saya tahu hanya Imlek. Apakah saya bisa mendapatkan kalendar ritual agama Kong Hu Cu 2010? Atas kebaikan Bapak/ Ibu saya ucapkan terimakasih. GBU.

    Reply

    • Hallo Ellyawati Tan,

      Wah kalau jadwal hari2 besar ritual Agama Konghucu, saya tidak memilikinya.
      Untuk memperolehnya, anda bisa menghubungi situs resmi Matakin. tks

      Reply

  2. tangal 1 bulan 1 imlek = Tahun Baru Imlek
    tangal 5 bulan 5 imlek = Twan Yang
    tangal 15 bulan 8 imlek = Tiong Ciu
    5 april atau 4 april(klo tahun kabisat)= Ceng Beng
    22 Desember = Tan Cik / hari Genta Rohani
    ada juga sembayang arwah umum king ho ping klo gak salah tanggal 15 bulan 7

    27 bulan 8 imlek = kelahiran nabi kongzi
    18 bulan 2 imlek = wafat nabi kongzi

    sembayang ce it capgo setiap tanggal 1 & 15 imlek setiap bulannya juga termasuk. thx^^

    Reply

  3. Ga ada seorangpun yang berhak bilang suatu ajaran itu agama ato bukan agama!! definisi agama aja dipersepsikan berbeda2 koq..bagaimana dengan orang2 amerika yang sebagian menjadikan demokrasi sebagai agama mereka??agama itu jalan hidup orang, sok ga ada satupun kekuatan duniawi yang bisa judge sana sini seenaknya..bicara masalah tao, tao sendiri bila menunjuk kepada laozi mmgnya orang(di indonesia) pada tau apa?judge nya kebanyakan tao bukan agama, cuma itu kan judge yang salah, krn balik lagi bagi umat tao ya tao ajaran agama mereka.. lalu bgmn dgn orang2 pedalaman, suku2 di indo misal, mereka punya agama mereka sendiri (yang kalo pd msyrkt kota kaga dianggep itu agama), padahal ya salah lagi anggapan itu..jadi hanya orang yang sok tau lah yang suka bilang begitu suatu ajaran itu agama ato bukan agama..inti terpenting ajaran yg dianut seseorang itu, mau itu agama keq, apaan keq, yang jelas tidak merugikan orang lain..ckckckckc…

    Reply

Leave a Reply