Percaya membuta = menghisap candu ???

Judul “Masa berlaku HU”, saya ganti menjadi seperti tersebut di atas.  Mengingat isi pembahasan lebih condong kepada masalah tersebut.

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com
Ditulis oleh SHAN MAO, pada Agustus 2007.

Contoh ilustrasi mengenai percaya secara membuta terhadap agama :   Saya jadi teringat buku yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, karangan AA Navis.   Saya pernah membacanya ketika di SMA dulu, dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.  Buku itu berkisah tentang H Saleh (tokoh utama dalam novel itu)  yang dikecam ALLAH karena hanya mencari kesucian diri di balik dinding2 Surau dan lupa terhadap kenyataan sosial kemanusiaan yang terjadi disekitarnya.

Suatu ketika, H Saleh yang saleh di balik dinding Surau itu, mengajukan protes karena hukuman neraka yang ditimpakan ALLAH kepadanya dan teman2nya yang juga berasal dari Indonesia.   H Saleh menjelaskan kepada ALLAH bahwa selama berada didunia dia dan orang2 Indonesia yang lainnya paling taat beribadah, rajin membaca kitab suci dan mengaji.   Karena itu, hukuman neraka tidak pantas ditimpakan kepada mereka, karena sesungguhnya mereka merasa tidak bersalah.

Namun dengan enteng ALLAH menjawab : “Kesalahanmu adalah terlalu mementingkan diri sendiri.   Kau takut masuk neraka, makanya kau taat beribadah.   Tapi kau lupakan hidup kaummu sendiri.   Engkau tidak memperdulikan sesama disekitarmu”.   (Robohnya Surau Kami, halaman 12).   Ha… ha… ha…   Yang ini saya salin dari koran Kompas tgl.13/8/07 halaman 36.

Pantaslah kalau orang terlalu tenggelam dalam doktrin keagamaan secara membabi buta, itu ibaratnya memang seperti menghisap candu saja !!!    Maka, sekali lagi hal ini membuktikan KEMULIAAN AJARAN AGAMA TAO.    Dalam SIUTAO, kita sebagai manusia diajarkan harus selalu bertingkah laku dan berusaha menjadi “Manusia Sejati”, kemudian baru mencari jalan untuk mendekati Dewa/Dewi dan menyatu dengan TAO.

Disini jelaslah, bahwa kita SIUTAO harus mengutamakan terlebih dahulu kepentingan kemanusiaannya, kita dituntut untuk bisa menjadi “Manusia yang Sejati”.   Baru bisa atau baru boleh kita mengatakan punya kompentensi membicarakan Keagamaan/Kedewaan yang sebenarnya !!!   Memang pada kenyataannya sekarang ini, kita bisa lihat dimana-mana didunia ini terjadi hal yang sebaliknya (dari Ajaran AGAMA TAO).    Banyak kelompok2 manusia yang sok suci/sok kudus, tiap hari hanya melulu ngoceh kekudusan ajaran agama mereka.

Namun tingkah laku mereka justru negatif, cuma membodohi Umat dan mengambil keuntungan dari para Umatnya saja.   Tindakan2 mereka itulah yang telah menyebabkan nama semua agama jadi jelek dan mulai dijauhi oleh umat manusia, bahkan mulai dicibir oleh bekas penganut agamanya sendiri.

Jadi memang benar kalau ada sebagian orang yang bilang : “Masuk neraka atau surga itu urusan kemudian !!!    Yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana keberagamaan itu dihayati ditengah2 konteks sosial yang serba keruh oleh aneka persoalan hidup dalam masyarakat.   Sebisa mungkin menyadarkan diri kita sendiri dan juga menyadarkan yang lainnya (WU CI WU REN).

Selanjutnya, saya jadi ingat cerita seorang SS, ceritanya begini :   Ada seorang pegawai sebuah sekolahan (penjaga sekolah), kepalanya botak dan hidupnya pas2an sehingga belum berkeluarga, datang ke rumah SS itu untuk berkonsultasi.   Kenapa koq kehidupan dia terasa sangat susah sekali !!!    SS itu memberikan nasehat supaya beliau jangan putus asa dalam menjalani hidup, karena sebenarnya hidup miskinpun ada manfaatnya untuk memacu kualitas spiritual seseorang, asalkan bisa WU dengan sungguh2 dan benar !!!

Namun beliau tetap ngotot untuk dilihatkan masa lalunya, kenapa sampai bisa nitis seperti sekarang ini (sebab beliau dengar bahwa SS itu bisa melihat masa lalu seseorang dari temannya).   Akhirnya dibantu juga tuh oleh SS tersebut, setelah dilihat baru ketahuan, ternyata orang itu dulunya (masa hidup sebelumnya) adalah seseorang yang telah meninggalkan sanak keluarganya untuk mencari kekudusan pribadi, disebuah kuil dengan prinsip KOSONG.

Nah, setelah meninggal dunia, dia dihukum untuk menitis kembali.   Dia protes kepada TAO/TUHAN : “Saya sudah rela meninggalkan anak dan keluarga saya beserta seluruh harta benda saya, demi untuk menjalankan perintah Agama saya.   Tapi kenapa saya masih disuruh menitis lagi ???    TAO/TUHAN cuma senyum2 dan berkata : “Itulah kesalahan kamu yang paling besar, kamu telah meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.   Kamu telah melarikan diri dari tugas yang aku titipkan, lari dari tugas memelihara keluarga dengan dalih mengejar kekosongan.   Padahal kamu tidak tahu apa arti kekosongan yang diajarkan dalam agama kamu !!!   Karena itu sekali lagi kamu akan diberi kesempatan untuk menebus dosa2 kamu dan hidup dalam keadaan “Serba Kosong” !!!”

Wah, susah deh SS itu mau menjelaskan apa yang dia lihat, karena SS itu kuatir jika pegawai sekolahan itu tidak percaya dengan apa yang dia katakan, tapi mau ngak mau harus mengatakan apa yang sebenarnya terlihat.   Tapi, untung saja pegawai sekolahan itu juga bercerita, bahwa akhir2 ini dia sering bermimpi bahwa seolah2 dia sedang bersemedi, disuatu pegunungan tapi entah dimana ???  (mimpi secara samar2 aja !)    Jadinya SS itu bisa lebih mudah memberikan nasehat2 selanjutnya, sehingga akhirnya pegawai sekolahan itu pulang dengan wajah berseri-seri, dia bertekad untuk terus menjaga anak2 sekolah di sekolahannya selama dia masih hidup.    Yah… hitung2 untuk menebus dosa ketika meninggalkan anak dan keluarga dimasa kehidupan sebelumnya kali yah !!!

Tags: , , , , , , , , ,  

Leave a Reply