Moralitas !!!

Dicopy dari BLOGnya Tjing Wen di http://siutao.com
Posted 18th July 2008 at 03:59 by Tjing_Wen
Diambil dan diedit dari thread berjudul MORALITAS, posting pertanyaan dari KLASIK serta jawaban-jawaban dari Tjing_Wen, SGD, Sanman89, USERNAME, Sponbob dan Progress.

Ta Cia Siek Tao Hao,

Hallo Rekan2 semua, dari pertanyaan Bro KLASIK :  “Setiap agama mengajarkan Moralitas, apakah sudah dijalani oleh umatnya ?   Yang dimaksud moralitas itu sebenarnya yang bagaimana ?   Bagaimana menjalaninya dan dari mana memulainya serta prosesnya ?”

Berbicara tentang MORALITAS, mari kita lihat terlebih dahulu di dalam Kamus Bahasa Indonesia apa definisi tentang moralitas, MORALITAS berarti BUDI PEKERTI ; SOPAN SANTUN ; ADAT SOPAN SANTUN.   Sementara kata MORALITAS berasal dari kata MORAL dan moral di dalam kamus didefinisikan sebagai ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai BUDI PEKERTI.

Jadi, jika kita berbicara tentang MORALITAS atau MORAL pasti kita merujuk kepada Cara Berfikir dan Bertindak yang dilandasi oleh BUDI PEKERTI YANG LUHUR.   Kenapa pada alinea kedua ini saya menambahkan kata-kata YANG LUHUR ?   Karena saya berbeda pendapat dengan definisi yang mengatakan bahwa MORAL adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai BUDI PEKERTI.

Apakah jika perbuatan yang dinilai “BAIK” dan dapat diterima oleh umum, lantas bisa dikatakan sebagai perbuatan baik YANG LUHUR ?     Kata-kata YANG LUHUR sengaja saya ambil dari pemahaman yang diberikan SS SHAN MAO pada diskusi di SIUTAO.COM yang berjudul “Budaya Malu !!!”   Sehingga pada akhirnya saya berpendapat bahwa definisi itu jadi ngak bener dan lebih tepat dikatakan sebagai SALAH KAPRAH.   Definisi SALAH KAPRAH menurut pemahaman saya adalah perbuatan baik yang dianggap benar oleh seseorang, yang hanya oleh karena perbuatan itu sudah “terlanjur dianggap benar oleh sebagian besar masyarakat dan/atau pada umumnya”.

Kembali kepada pertanyaan : “Setiap agama mengajarkan Moralitas, apakah sudah dijalani oleh umatnya ?”   Pastinya sudah, hanya saja yang membedakan adalah seberapa banyak nilai-nilai BUDI PEKERTI YANG LUHUR dari Ajaran Agamanya, berhasil diperoleh ; diserap ; dimengerti dan untuk dilaksanakan oleh masing-masing individu umat di dalam caranya berfikir, berperilaku dan bertindaknya.

Landasan dari Moral adalah Budi Pekerti Yang Luhur dan Moral merupakan pengejewantahan ; implementasi atau manifestasi dari “Budi Pekerti”.   Jika “Budi Pekerti” yang tidak luhur yang dia peroleh, maka dipastikan moral yang timbul juga bukanlah moral yang luhur.

Dikatakan bahwa manusia adalah moral being.   Nah sebagai insan yang bermoral, manusia tidak bisa disamakan dengan binatang.   Dan karena kodratnya sebagai insan bermoral, “Sejatinya” ; “Sifat Dasarnya” ; “Kodratnya” ; manusia mempunyai “panggilan” untuk mengejar nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebenaran, kejujuran, kesatriaan, kesetiaan, estetika dan lain sebagainya.

Moralitas dalam diri seseorang dikatakan dapat terus berkembang dari tingkatan yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi seiring dengan berkembangnya “Kedewasaan Berfikir”.   Kesadaran Moral harus dapat berdiri secara otonom (otonom = mandiri) dan tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungan/terbawa arus.   Kesadaran Moral boleh mengikuti pandangan serta tatanan moral yang berlaku di dalam masyarakat, akan tetapi Kesadaran Moral tidak boleh berseberangan dengan Hati Nurani.   Jadi, Kwalitas Moral seseorang adalah kesetiaannya kepada HATI NURANI – BUDI PERKERTI YANG LUHUR.

Seingat saya SS SHAN MAO juga pernah menuliskan motto HEK JING ; HEK LI ; HEK FA yang artinya bertindaklah sesuai dengan hati nurani dan selalu mentaati peraturan-peraturan yang berlaku !!!   PERAN AGAMA didalam membentuk BUDI PEKERTI YANG LUHUR itupun hasilnya adalah tergantung bagaimana kemauan dari masing-masing individu umatnya, tergantung dari seberapa besar atau banyaknya pelajaran Budi Pekerti yang berhasil diperoleh dan diserap oleh masing-masing umat untuk dapat dilaksanakan didalam kehidupannya sehari-hari.   Belajar Agama Yang Luhur adalah suatu upaya yang mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan KESADARAN kearah yang lebih tinggi atau lebih baik lagi.

Ada pertanyaan selanjutnya : “Banyak agama yang mengajarkan moralitas kepada umatnya.   Mengapa justru banyak umatnya yang masih jahat/tidak benar dan sialnya lagi malahan banyak pimpinan spritual yang menjadi serigala berbulu domba, mengatas namakan agama padahal adalah serigala.   Bagaimana mungkin membangun moralitas ?   Yang salah ajarannya atau orangnya ?”

Permasalahannya di sini adalah banyak agama yang hanya menekankan bahwa perbuatan baik buruk dirumuskan dalam bentuk DOSA, bukan tanggungjawab moral pada saat pengambilan keputusan atas baik buruk tersebut.   Sehingga “TUHAN” diindentifikasikan sebagai oknum yang “melarang” ; “mengatur” dan “mengendalikan” hidup manusia.   Segala jenis penyimpangan atas larangan dan aturan yang telah ditentukan oleh “TUHAN” adalah perbuatan DOSA.   Dalam hal ini umat hanya boleh “Pasrah” dan “Wajib Hukumnya” untuk menerima secara total apa yang tertera di dalam KITAB SUCI. Tidak boleh ada pertanyaan ; tidak boleh ada pemberontakan, “TUHAN” dianggap sebagai “Father” ; “Mother” atau “Babysitter” bagi manusia dan manusia adalah sebagai “Baby”.

Maka, tidak perlu heran jika pada akhirnya ada yang menjadikan “TUHAN” sebagai “Tameng” atau “Perisai”, ketika mereka bertingkah laku menyimpang.   Bahkan ketika perilakunya tidak bermoral, perilakunya itu bisa “diperhalus” atas nama “TUHAN”.   “In the name of GOD, I can do anything.”

Tidak ada tanggung jawab pribadi sebagai manusia yang bebas dan merdeka, karena segala tanggung jawab sudah dilemparkan kepada “TUHAN”.   Itu yang disebut sebagai “MORALITAS BUDAK”, karena manusia ditempatkan sebagai “BUDAKnya TUHAN”.   Dalam hal ini yang salah adalah umatnya, kenapa dia sampai memilih Agama Yang Tidak Luhur !!!   Atau “Lembaga Agama” dan/atau “Oknum Pemuka Agama” tersebut telah dengan sengaja menginterpretasikan “Isi” KITAB SUCI semaunya sendiri, untuk maksud dan tujuan tertentu !!!

Berbeda dengan kita yang belajar Agama TAO (SIUTAO), kita selalu diajarkan untuk menggunakan WU.   Kita selalu diajarkan untuk menilai atau melihat sesuatu persoalan tentang baik buruk, dengan terlebih dahulu harus mempertimbangkannya secara RASIONAL ; MENYELURUH (teori YIN YANG) ; PAKAI OTAK YANG JERNIH ; PAKAI BUDI PEKERTI YANG LUHUR sesuai Ajaran Agama TAO.   Di dalam Agama TAO, kita diajarkan untuk menjadi manusia yang bebas, merdeka dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri !!! Karena jika tidak dapat bertangung jawab terhadap dirinya sendiri, bagaimana mau bisa bertanggung jawab kepada orang lain ???

Salam Hangat TAO,

Xie Shen En

Tags: , , , , , , , , , , , , ,  

Leave a Reply