Mitos dan Logika

Diambil dan diedit dari arsip diskusi di http://siutao.com
Diskusi antara Tommy Wong, Xianhu, Sanman89, Life, Chang, Tommy Wong999, SHAN MAO, FOX, Sponbob, ZOOM, pada November 2007.

Di jaman kita saat ini, masih saja banyak mitos-mitos yang terdapat di dalam budaya warisan leluhur kita, nah tugas kita kan mengikis habis mitos-mitos tersebut agar generasi penerus kita lebih berpikiran logis dan realistis.

Nah… ini sebagai contoh2nya :
1. Di Kelenteng2 sering ada altar “Hauw Ciang Kong” (harimau), Umat bahkan mempersembahkan potongan2 daging segar.
2. Melemparkan uang logam atau uang kertas ke altar Harimau/Ular.
3. Rupang Kuda di pay, di Kelenteng Kuan Kong.
4. Ular dan Kura2 hidup di pay, di Kelenteng Hian Tian Shang Di.
5. Sembahyang kepada SHEN/SHIEN dengan mempersembahkan nasi + daging babi.
6. Sembahyang dengan menggunakan lilin berukuran besar, dianggap bisa mendapatkan rejeki yang besar juga.
7. Sembahyang dengan menggunakan hio yang panjangnya lebih dari 1m, dengan diameter sekitar 10-15cm.
8. Sebelum bersembahyang terlebih dahulu mengetuk2 Hiolo/Altar/menghentak2an kaki ke bumi.
9. Menuangkan minyak saat pay2 di Kelenteng, dengan anggapan supaya jalan hidupnya selalu diterangi dan jika sedang mengalami kesulitan akan tetap ada jalan keluarnya.
10. Membakar segepok kertas Kim Coa setelah selesai bersembahyang, dianggapan sebagai salah satu bentuk persembahan.
11. Mengasapi muka/wajah dengan asap dupa, sampai2 rela untuk antri… menunggu giliran.
12. Masih adanya Umat yang minta2 “nomor buntut” di depan Altar SHEN/SHIEN, dengan media bilah2 kayu “Ciamsi” atau kayu “Sen Kau”.
13. Jika ada Umat yang menyumbang/mengisi “Kung Tek Siang”, Penjaga Kelenteng segera membunyikan lonceng/tambur serta menggebrak2 meja altar dan berteriak2, yang kurang lebih bermaksud memberikan laporan kepada SHEN/SHIEN, serta memohonkan supaya Umat tersebut diberkati.
14. Di rumah harus ada “Altar Leluhur” untuk di pay.
15. Membakar kertas “Uang2an”, “Koper2an”, “Baju2an”, “Rumah2an” dll, untuk “dikirimkan” kepada leluhur.
16. Sembahyang “Tong Jiu Pia”, sembahyang “Bacang”, sembahyang “Onde”, sembahyang “Raja Setan” atau “Hantu Kelaparan” (Cit Gwee), dll.

Semuanya itu khan tidak benar, tetapi bagaimana kita bisa menjelaskannya kepada orang tua, tapi… supaya kita tidak dianggap kurang ajar… ?

Memang benar sih…, kita sebagai seorang Taoyu dianjurkan untuk bisa mengertikan diri, juga bisa mengertikan orang lain (WU CI WU REN).   Tetapi memang tidak mudah untuk merubah pandangan/prinsip seseorang yang sudah terlanjur mengakar, untuk itu diperlukan kesabaran untuk dapat menjelaskannya.   Bila kita ingin merubahnya, tentunya hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu, sebab serta mengapa hal2 yang kita anggap “tahayul” selama ini bisa berkembang di masyarakat.

Sebagai contoh ketahayulan lainnya :
1. Wanita yang sedang haid, dilarang untuk bersembahyang di Kelenteng (karena dianggap sedang kotor, dst.).
- Pada Jaman dahulu, Kelenteng2 berada di atas gunung2, untuk sekedar datang bersembahyang tentu tidaklah mudah.    Pada waktu itu juga belum ada yang namanya “pembalut” wanita yang sedang haid.   Bisa kebayang gak begitu repotnya ?   Nah oleh karena itu, bagi wanita yang sedang “datang bulan” dilarang untuk bersembahyang ke Kelenteng.   Tapi pada jaman sekarang Kelenteng berada di tengah2 kota dan di toko2 bahkan di PKL (pedagang kaki lima) banyak dijual “pembalut” wanita. Kalau sudah begini kenapa masih dilarang ?

2. Orang yang sedang dalam keadaan “berdukacita”, dilarang bersembahyang di Kelenteng, dst.   Ini yang paling aneh ?    Karena justru pada saat seperti itu, kita memerlukan bimbingan serta memohon diberikan ketabahan dari SHEN, tapi koq malah dilarang bersembahyang dengan alasan kita sedang dalam keadaan “SIAL” (Yin), dst.

Ada lagi masalah saat sedang “berdukacita”, yang sering membuat kita jadi serba salah !!!   Contohnya, bilamana pada saat keluarga kita sedang berduka dan kita mendapat undangan dari teman yang mengadakan acara pernikahan.    Mau datang ngak enak…, tidak datang juga ngak enak…, karena pandangan masyarakat kita masih cenderung menganggap bahwa orang yang sedang berduka, tidak boleh berkunjung ke rumah orang lain, apalagi bertamu ke pesta perkawinan atau mengunjungi orang sakit, dan sebagainya.    Karena takut ketularan “Sial”, katanya… ha… ha… ha… Lha…, lalu sikap kita harus bagaimana yah… ?

Sebaiknya, apabila kita yang sedang “berdukacita”, akan lebih bijaksana jika kita tidak mengunjungi rumah orang lain ataupun pergi ke pesta perkawinan.   Hal ini hanyalah sekedar untuk berjaga-jaga saja, jangan sampai nantinya kita yang dikambing-hitamkan, seandainya orang yang kita kunjungi itu dikemudian mengalami masalah/kedukaan juga.    Namun…, jika orang lain yang sedang berdukacita, kemudian mengunjungi kita, sepatutnya kita bisa tetap menerimanya seperti biasanya dan tidak mengambing-hitamkan dia jika tak lama setelah itu kita juga mengalami sesuatu kemalangan.

Ada tradisi yang baik dan mungkin juga masih bermanfaat untuk melestarikan Kebudayaan Orang Tionghoa, tapi ada juga yang sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman.    Mau menjelaskan kepada orang yang lebih tua atau orang tua , tentunya perlu proses…, perlu cara…, perlu waktu…, serta harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Di dalam Buku STPC halaman 189 (Versi Mandarin), disana ada kalimat yg tertulis “DOU FU DA XIANG CHU, BU RU JIU GU BING, GONG ZUO PAI CU YANG, BU DONG SHEN FO XIN “.     Pamer kekayaan dengan mambakar lilin atau hio yang super besar, lebih baik berderma menolong orang yang kekurangan.   Mempersembahkan babi dan kambing di meja altar, berarti tidak memahami kehendak Dewa/Dewi.

Bagaimana agar Umat AGAMA TAO tidak sampai termakan mitos dan ketahyulan seperti itu, termasuk membakar lilin besar yang lebih banyak segi jeleknya dari pada segi baiknya.    Apalagi kita tahu, bahwa kebanyakan orang pada zaman dulu berlomba2 membakar lilin besar, tujuannya adalah untuk saling beradu kekayaan di depan Umat yang lain, itu sesungguhnya sangat melecehkan SHEN MING.

Untuk “Sembahyang Leluhur” dan “Sembahyang Cit Gwee” (rebutan), jika orang tua masih belum bisa menerima penjelasan dari kita dan tetap ingin mempertahankan tradisi itu, sebagai anak… sepatutnya kita ikut sajalah dulu…    Setelah nanti kita yang menjadi orang tua/setelah orang tua kita meninggal, barulah kita bisa merubahnya.    Saat ini kita tidak perlulah ngotot2an atau ribut dengan orang tua sendiri…, hanya karena masalah seperti itu.

Mengenai “Sembahyang rebutan”…    Memangnya “Leluhur” kita itu siapa… “Setan Kelaparan” atau kita anggap “Hantu Gentayangan” ?    Koq… sebagai anak cucu, kita malah merendahkan “Leluhur” sendiri…, sangat tidak pantas rasanya !!!    Mengenai membakar uang2an pun tidak ada gunanya, hanya pemborosan dan mendorong meningkatnya pengrusakan alam (karena kertas dibuat dari sekian banyak pohon yang ditebang).

Mengenai “Altar Leluhur” di rumah, memang secara psikologis akan lebih baik jika foto almarhum/almarhumah, tidak digantung (dipajang).    Karena ketika kita melihat fotonya, tentu sedikit banyak kita akan jadi teringat akan almarhum/almarhumah dan merasa sedih.    Seandainya kita sendiri yang telah meninggal dan melihat anak cucu kita sedih karena terkenang akan diri kita, bagaimanakah perasaan kita…, bahagiakah atau ikut bersedih… ?

Jika kita bisa Siutao dengan baik, tentunya “Leluhur” kita akan merasa sangat senang juga, karena keturunannya semakin lama menjadi semakin baik, dan tidak sia2lah beliau bisa memiliki keturunan seperti kita2 ini.    Kita sendiri tentu sangat mengharapkan agar anak cucu kita, nantinya bisa menjadi lebih baik…, lebih sukses…, lebih sejahtera… dan lebih bahagia kehidupannya… dibandingkan hidup kita saat ini.

Entri ini dituliskan pada 2 Mei 2009 pada 10:44 PM dan disimpan dalam Artikel TAO, Asal Usul, Cerita Bijak. yang berkaitan: budaya, leluhur, logika, mitos, shen, shien, tahayul. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri. Ubah tulisan ini.

Tags: , , , , , , , , , , , , ,  

5 Comments

  1. Ini yg nulis yg ngak ngerti apa editor nya yg asal masukin artikel sih ??? sayang,… sayang,….

    Reply

  2. Hallo Lucky,

    Bisa tolong dibantu, bagian mana yang anda maksudkan ? Tks

    Reply

  3. mungkin pak tjing wen, bisa menelusuri internet atau bertanya dengan orang orang yang lebih tua mengenai ini, anda akan menemukan banyak jawaban. Menurut saya, semua ini intinya ada tradisi dan penghormatan, juga ucapan syukur, kepada yang kita anggap sebagai Dewa penolong atau Leluhur yang harusnya ikut merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan. Seperti mengisi minyak di klenteng, kita bertujuan untuk memberi penerangan kepada klenteng tersebut sehingga dewa dan orang yang bersembahyang di situ bisa mendapatkan pencerahan. dan lebih utama lagi, masalah menghormati leluhur dengan altar , apa yang salah dengan itu pak? padahal tujuannya agar kita ingat, kita lahir disini, kita bisa menjadi manusia seperti ini, itu karena leluhur kita, dengan menyajikan makanan, terutama makanan kesukaan mereka, BETUL.. mereka tidak bisa makan, tapiiii kasih sayang dari kita dapat mereka rasakan. Sembahyang rebutan, bukan bertujuan untuk memanggil setan atau apapun, apakah pak tjing wen tahu, betapa banyaknya mahluk diluar sana yang ditelantarkan oleh keluarga? atau mereka hidup bergentayangan karena karma buruk mereka? sembahyang rebutan adalah bentuk kasih sayang kita terhadap mereka, dan mendoakan mereka semoga karma baik orang yang meninggal bisa berbuah, ini semua adalah bentuk dari kasih sayang pak. membakar uang uangan merupakan tradisi, tapii, apakah bapak pernah mendengar ada orang dimimpikan oleh leluhur mereka, bahwa mereka kekurangan baju, uang ataupun rumah?apa yang bapak lakukan seandainya bapak yang mengalami hal seperti ini? apakah bapak akan mendiamkan saja? ataukah bapak akan membakar uang atau lain2nya buat mereka? mungkin menurut bapak, karena bapak mengaggap itu tahayul, jadi bapak tidak akan meladeninya, tapi leluhur anda mungkin benar benar mengharapkan itu, mungkin leluhur tidak menerima dalam bentuk rumah, tapi dalam bentuk kasih sayang, dan kerelaan kita terhadap beliau beliau diatas sana. dan pak, masih banyak yang lain lagi, dan ini adalah salah satu bentuk TRADISI, apakah bapak mengerti masih banyak tradisi di bali , jawa dan berbagai tempat di indonesia dan di dunia yang mungkin tidak sesuai dengan dunia modern? apakah mereka menghilangkan tradisi tradisi itu? seperti tradisi larungan, tradisi menabur bunga dan masih banyak yang lainnya? mereka justru melestarikannya, dan mengundang banyak tourist yang bermanfaat bagi devisa negara? kenapa kita warga tionghoa kok malah berusaha menghilangkan itu semua? dan terakhir , selama, kegiatan yang umat umat klenteng atau pun umat tionghoa lainnya, tidak merugikan orang lain, dan diri kita sendiri, dan selama kita meyakini hal itu, buat apa kita pusingkan? Kalau kita tidak setuju dengan cara tersebut, kita tidak perlu meyakinkan orang lain untuk sependapat dengan kita. toh kita sendiri juga belum tentu benar.
    sekian

    Reply

  4. tambahan lagi pak, seandainya orang orang akhirnya dilarang untuk sembahyang dengan dupa besar, tidak membakar kertas kim, tidak menyalakan lilin besar, dll. Bayangkan betapa banyak perusahaan yang rugi dan kemudian berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan?
    Marilah kita berpikir ambil pikiran positif dari segala hal, dan sekali lagi, mereka juga tidak merugikan kita, jangan malah kita yang membuat rugi mahluk lain, karena seperti ajaran dao, benar adalah salah, dan salah adalah benar.

    Reply

    • Hallo Diane, terima kasih atas penjelasannya yang panjang lebar. Tapi satu yang bisa saya tangkap…anda masih percaya tahayul !!!

      Reply

Leave a Reply