Kakek Dungu Memindahkan Gunung

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com
Disadur oleh Benny, pada 10 Meret 2005

KAKEK DUNGU MEMINDAHKAN GUNUNG (I)
(judul asli YUGONG YI SHAN)

Sebuah legenda rakyat Tiongkok
Zaman dahulu kala, di sebuah dusun hidup seorang kakek yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan Yugong atau Kakek Dungu.   Ia tinggal di Huabei Tiongkok Utara, karena itu ia biasa disebut juga Huabei Yugong atau Kakek Dungu dari Huabei.

Ia tinggal di sebuah dusun, rumahnya menghadap selatan.   Di depan rumah menghalang dua buah gunung yang tinggi yang bernama Taihang Shan (Gunung Taihang) dan Wangwu Shan (Gunung Wangwu).   Kedua gunung itu menghalangi jalan dari dusun ke kota, sehingga penduduk dusun yang mau ke kota untuk berbelanja kebutuhannya dan menjual hasil buminya, harus mendaki gunung itu dan kemudian menuruninya lagi.   Setiap kali mereka pergi ke kota dan pulang ke kota, jalan yang sulit dan melelahkan tersebut mau tak mau harus di tempuh.

Kakek Dungu mempunyai maksud mengajak anak cucunya menggunakan cangkul untuk menggali gunung itu dan memindahkannya.   Kalau kedua gunung itu sudah tiada, bukan saja keluarganya, tapi semua penduduk dusunnya, bahkan penduduk dusun lain akan mudah pergi dan kembali dari kota.   Segera ia mengumpulkan mereka dan membicarakan maksudnya yang ternyata mendapat dukungan yang antusias.

Mereka mulai bekerja, cangkul dan sekop tak pernah berhenti, tanah mulai diangkut dan dipindahkan.    Berita ini telah tersiar luas, banyak penduduk datang ramai-ramai membantunya.   Konon ada lagi seorang kakek yang terkenal karena pintarnya, orang-orang menyebutnya Zhisou atau Kakek Pintar.   Kakek pintar tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar berita Kakak Dungu ini.   Ia datang mengunjungi dan mencari Yugong.   Ia berkata: “Kalian benar-benar tidak pakai otak, dengan mengandalkan tenaga beberapa puluh orang, bagaimana bisa memindahkan gunung sebesar itu ?   Sudahlah, jangan mengerjakan hal yang tidak mungkin dikerjakan, hanya membuang waktu dan tenaga.   Andapun sudah tua, bagaimana mampu memindahkan gunung ini, berapa lama lagi umur anda?”

Yugong menjawab: “Gunung ini tinggi dan besar, itu benar.    Tenaga kami juga terbatas, itu juga benar. Tapi digali sedikit, gunung ini berkurang sedikit. Kalau digali terus, gunung ini hanya akan berkurang tingginya dan tidak akan bertambah, sedang kami terus bekerja.   Bila saya mati, masih ada anak saya, bila anak saya mati, masih ada cucu.   Turun temurun tak akan habis, makin lama makin banyak.   Mana mungkin gunung ini tak akan habis”, katanya sambil terus mencangkul kembali.   Zhisou hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.   “Dasar Kakek Dungu”, ia mengguman dan pulang.

Pekerjaan raksasa ini bukan saja mengharukan penduduk dusun itu, bahkan banyak penduduk dusun lain datang membantu dengan suka rela.   “Thien Kong” terharu mendengarnya, Ia memerintahkan dua orang Dewa untuk memindahkan kedua gunung itu ke tempat lain.
————————————————-
Komentar:
Cerita ini adalah cerita yang sangat sederhana, tapi telah berumur sangat tua.   Tidak ada yang tahu mulai zaman apa cerita ini beredar dan tidak ada yang tahu siapa yang mengarangnya.   Dari zaman ke zaman, dari mulut ke mulut, ia beredar terus.   Pada masa modern ini cerita ini sering dibukukan, menjadi buku bacaan untuk anak-anak atau buku bergambar dan juga sering muncul sebagai bacaan dalam buku pelajaran sekolah dasar.   Hampir semua orang yang pernah belajar bahasa Tionghoa pernah mendengarnya atau membacanya.

Cerita yang sederhana, cerita yang tak ada anehnya dan cerita ini hanya legenda, bukan cerita yang terjadi sebenarnya.   Meskipun demikian, cerita ini adalah cerita yang istimewa, cerita yang luar biasa.   Ia merupakan sebagian dari Budaya Tionghoa yang unggul.   Cerita ini membangkitkan semangat orang Tionghoa yang tak kenal menyerah terhadap segala kesulitan.   Ada lagi orang seperti Kakek Pintar Zhisou, mencibir mendengar cerita anak-anak ini, “Itu kan dongeng” katanya “Dalam praktek mana ada orang demikian.”

Berikut di bawah ini adalah salah satu kejadian nyata yang baru tersiar pertengahan tahun 2004, Ini membuktikan semangat Yugong ternyata masih hidup, dan memang masih hidup dan menjadi sebagian dari budaya Tionghoa.

KAKEK DUNGU MEMINDAHKAN GUNUNG (II) : KISAH SEORANG GADIS PEMBUAT KANDANG GUOGUO

Dengan wajah yang kelihatan lelah, tapi dengan semangat yang menggebu-gebu, seorang gadis duduk di bawah pohon, tangannya tidak pernah berhenti bergerak, dan matanya tak pernah berhenti menatap benda di tangannya.   Daun gaoliang (sejenis gandum) yang kekuning-kuningan tak pernah berhenti berputar-putar dimainkan sepasang tangan yang sangat terampil, dalam waktu sekejap saja sebuah kandang guoguo telah selesai.

Di hadapan gadis itu telah bertumpuk sejumlah kandang guoguo yang sudah selesai. Selesai sebuah ia tidak berhenti, tangannya mulai lagi mengambil daun gaoliang yang lain, dan mulai lagi bergerak-gerak dengan cepat, daun gaoliangpun seolah-olah menari di tangannya, tangan yang kecil dan lemah yang penuh dengan luka-luka goresan tepi daun gaoliang yang tajam.   Pemandangan ini terjadi di sebuah dusun di Huabei atau Tiongkok Utara pada tanggal 10 bulan Juli tahun ini tepat jam 1 tengah hari.

Gadis tersebut Minmin (bukan nama sebenarnya) sejak selesai ujian masuk perguruan tinggi bulan Juni yang baru lalu, tidak pernah berhenti membuat kandang guoguo dari daun Gaoliang.   Guoguo adalah sejenis binatang mirip jengkerik yang dapat berbunyi dan hidup di pohon.   Dengan membuat kandang guoguo keahliannya, Minmin mengharapkan dapat masuk universitas.   Biaya kuliah dan biaya hidup studi di universitas memerlukan dana lebih dari 10.000 yuan per tahun, sedang kandang guoguo yang dibuatnya, bila ada yang membeli, hanya laku 20 sen per buah.   Berapa banyak kandang guoguo yang harus dibuat gadis ini untuk membiayai kuliahnya ?

50 buah baru 1 yuan. Minimal 50.000 buah yang diperlukan! Bila ia diterima di perguruan tinggi, akhir Agustus sudah harus melapor dan membayar uang kuliah, bulan September sudah mulai kuliah.   Mungkinkah itu ?   Cukupkah waktu untuk membuat sebanyak itu ?   Adakah pasar untuk kandang guoguo sebanyak itu ?   Memang guoguo menjadi binatang kesayangan sebagian orang di daerah itu, tapi apa sebanyak itu ?   Minmin mengerti hal ini, tidak mungkin, tidak mungkin dengan membuat kandang guoguo ia mampu berkuliah, tapi ia yakin dengan menjual sebuah kandang guoguo, pintu universitas semakin dekat.

Benar-benar semangat Yugong, semangat “Kakek Dungu memindahkan gunung”.   Sejak di SMA ia terus membuat kandang guoguo, setiap ada waktu.   Pagi, siang, malam tak perduli, selain belajar dan membuat tugas sekolah, hanya membuat kandang guoguo kerjanya.   Tiap kandang guoguo, membuat dia makin dekat dengan pintu universitas.

Tgl. 3 Juli 2004, perlombaan pertama membuat kandang guoguo untuk se Kabupaten diadakan di Taman Changshou di kota kecamatan dekat dusunnya.   Guoguo di kabupaten tersebut sudah menjadi binatang kesayangan banyak penduduk, sehingga menangkap guoguo dan membuat kandang guoguo menjadi mata pencaharian penting bagi penduduk dusun tsb.   Guoguo dari kabupaten ini telah menyebar ke seluruh propinsi bahkan ke luar propinsi.

Perlumbaan dimulai, para peserta segera mengeluarkan segala keterampilannya untuk membuat kandang guoguo secepat mungkin.   Hanya bunyi daun gaoliang yang gemersik beradu sama lain untuk berebut menjadi juara kandang guoguo.   Semua mata tertuju kepada tangan masing-masing yang demikian sibuknya, mata penonton memandang dengan penuh perhatian kepada tangan para peserta, siapa yang tercepat ?

Ketika pertandingan selesai dan dihitung, panitia mengumumkan juara pertama, dari beberapa puluh peserta, jatuh kepada seorang gadis berumur 19 tahun, ia mampu membuat kandang guoguo rata-rata sebuah kandang guoguo per 2 menit.   Ia berhasil menggondol medali emas. “Siapakah dia ?   Anak siapa yang demikian terampil ?”    Dengan penuh kekaguman mata semua orang tertuju padanya.    Ia adalah Minmin, yang baru lulus SMA dan sedang menunggu pendaftaran masuk perguruan tinggi.

Minmin berhasil mendapat nilai 634 dalam tes masuk perguruan tinggi, sebuah hasil yang gemilang.    Meskipun ia hanya nomor 14 di Kabupaten itu, tapi nilainya merupakan nilai tertinggi untuk peserta perempuan.   Ia mengaku beban mental yang berat menyebabkan ia tidak puas terhadap nilai yang sudah setinggi itu.   “Nilai lebih baikpun percuma, sebab saya tak mungkin mampu masuk universitas. Kami datang dari keluarga yang miskin, tambahan ayah masih mempunyai hutang yang besar yang belum bisa dibayar”,  setelah berkata demikian ia menunduk tak mau bicara lagi.

Kemiskinan yang tak mampu diatasi, sudah bukan hal yang aneh bagi penduduk kampung tsb.   Tanah yang kering dan berbatu di lereng gunung, hampir tak dapat ditanami.   Semua tanah yang subur di lembah sudah habis terendam air, ketika dibuat waduk untuk mengairi daerah hilir.   Penduduk setempat terpaksa pindah ke lereng gunung dan mencari mata pencaharian baru.   Tanah yang tak bisa ditanami,  menyebabkan penduduk yang asalnya sudah miskin menjadi lebih miskin lagi.   Hasil kerja ayah Minmin setahun hanya cukup untuk hidup sederhana selama 2 bulan !

Oleh karena itu, menangkap guoguo dan membuat kandang guoguo menjadi bagian penting dalam mata pencaharian penduduk dusun.   Guoguo dan kandangnya dijual ke kota kecamatan, ke kota kabupaten, makin lama makin jauh.   Meskipun sangat miskin, keluarga Minmin masih dapat hidup.   Tahun 1999 yang lalu, kakak perempuannya Minmin, mendadak kena serangan jantung.   Semua rumah sakit dari kota kecamatan, kabupaten, propinsi, sampai ke Beijing, yang diharapkan dapat mengobati kakaknya itu, didatangi.

Malang, kakak Minmin tidak tertolong.   Setelah mengeluarkan banyak uang hasil sumbangan para sanak dan kerabat dan uang hasil pinjaman yang mencapai 40.000 yuan lebih, akhirnya pada tahun 2001 kakaknya meninggal juga.   Tinggallah beban yang berat harus dipikul oleh keluarga petani ini.   Selain untuk biaya hidup, juga biaya Minmin dan seorang adik laki-lakinya untuk sekolah.   Ayahnya bahkan pernah mengatakan. “Rasanya tak mungkin kamu berdua dapat sekolah terus, salah seorang harus keluar”.

Sejak berumur 4 tahun, Minmin bersama almarhumah kakaknya sudah belajar membuat kandang guoguo.   “Orang tua anak lain, sering membawa anaknya keluar bermain,” kata ibunya sedih.    “Anak kami, sejak sekolah semua biaya bayar sendiri, hasil jerih payahnya membuat kandang guoguo.   Malam, ketika saya dan ayahnya sudah tidur, anak-anak masih menggunakan lentera untuk belajar.   Sebelum ujian universitas, ia sempat pulang beberapa hari, bukan belajar, tapi membuat kandang guoguo.   Ketika saya tegur, “belajarlah, jangan membuat kandang guoguo terus”.   Ia hanya menjawab : “Tak mungkin, saya perlu mengumpulkan uang untuk biaya kalau masuk universitas.”

“Minmin seorang anak yang tahu diri.   Tiap akhir semester ia pulang selalu membawa hadiah sebagai juara di kelasnya,” lanjut ibunya lagi.    Hasil ujian perguruan tinggi keluar, angka 634 yang didapat Minmin memberikan peluang untuk masuk universitas top.   Sayang, kegembiraan keluarga hanya berlangsung sesaat, kemurungan kembali menghantuinya.   Penghasilan keluarga hanya cukup hidup yang paling minim, hutang pengobatan kakak Minmin sampai meninggal berjumlah lebih dari 40.000 yuan.    Bagaimana mungkin menyekolahkan anak ke universitas yang biayanya per tahun lebih dari 10.000 yuan ?  Untuk menyekolahkan Minmin ke SMA saja sudah hampir tak mampu, apalagi adik Minmin baru masuk SMA dan perlu biaya besar.  Berpikir ke sini, ayah Minmin makin lesu, ia hanya menunduk tepekur, ia menjadi pendiam dan tak suka bicara.

Harapan satu-satunya adalah bila ayah Minmin memikul kandang-kandang guoguo yang sudah berisi guoguo.   Ia berjalan kaki menuruni gunung memberanikan diri masuk ke kota yang sangat asing baginya.   Jalan besar, gang, bahkan daerah becek dan kotor ia masuki, hanya demi mendapat uang menjual guoguonya untuk agar anak-anaknya dapat sekolah terus.   Ia berteriak-teriak di jalan menjajan dagangannya.   Seekor demi seekor guoguo dijualnya, ia mendapat satu yuan dua yuan untuk itu.   Untuk menghemat, ia tidak berani tidur di warung penginapan yang termurahpun, ia pergi mencari tempat dan tidur di kolong jembatan.   Untuk makan, ia membeli makanan yang paling murah dan makan di pinggir jalan.   Untuk minum, ia minta dari keluarga yang kelihatan mempunyai sumur di rumahnya.   Setiap ia pulang, ia sudah kelihatan sangat lusuh dan lelah, seolah-olah baru seperti sedang menderita sakit parah.

Pada saat yang sangat beruntung, ia dapat membawa pulang 300-400 yuan.   Uang sekian dibanding biaya yang diperlukan Minmin kuliah hampir tak ada artinya sama sekali.   Beberapa kali ia berkata : “Kalau Minmin masuk universitas, terpaksa adiknya harus keluar dan pergi bekerja.   Kalau adiknya terus bersekolah, Minmin terpaksa melepas kesempatan baik masuk universitas….!,  Ayah tahu, diam-diam engkau suka menangis, tapi tak berani di depan ayah, takut ayah sedih”.   Hidup sudah sedemikian sulit, bagaimana menyekolahkan anak ke universitas ?    Adik Minmin dengan nilai yang sangat bagus, baru masuk SMA terkemuka di kota kabupaten, apakah harus keluar lagi ?    Kesulitan yang membelit seperti lingkaran setan, tidak tahulah ia, bagaimana memecahkannya.

Ayah Minmin mengisap rokoknya sambil memandang gunung yang tak jauh dari rumahnya.   Ia termenung memikirkan nasib kedua anaknya.   Keduanya adalah anak kesayangannya, sekarang terpaksa harus salah satu dikorbankan, itupun masih terlalu berat.   “Kalau terpaksa, biarlah saya yang melepas kesempatan, “ kata Minmin.   “Biarlah adik sekolah dulu, nanti bila keadaan ekonomi membaik, saya ujian lagi.”    “Tidak“, kata adiknya.    “Saya yang berhenti sekolah, kesempatan kakak masuk universitas jangan dilepas, belum tentu nanti saya bisa lulus ujian masuk universitas bagus”.     Bagaimana perasaan ayah dan ibu Minmin mendengar kata anak-anaknya itu ?

Ibu Minmin tahu, 20 sen harga kandang guoguo, dibanding biaya universitas apa artinya ?   Jelas Minmin tidak mungkin bisa kuliah.   Di mata Minmin lain lagi.   Meskipun kesempatan kuliah demikian tipis, selama masih ada kesempatan sebesar rambutpun, tidak akan ia lepas.   Kerja seharian menghasilkan 200 kandang guoguo, bila laku semua ia akan mendapatkan 30- 40 yuan sehari.   Kedua tangannya sudah berlumuran darah.   Ia menatap tangannya bukan menyesal tapi menggumam : “Bila saya mempunyai beberapa pasang tangan lagi seperti ini, alangkah baiknya….!”

Catatan penulis:
Sikap dan usaha Yugong mengharukan “Thien Kong”, sikap dan usaha Minmin mengharukan masyarakat Tiongkok Utara dan terutama Shanghai.   Bantuan mengalir dari mana-mana agar Minmin dapat meneruskan sekolahnya di sebuah universitas terkemuka di bidang teknik di Huabei Tiongkok Utara.

Ini kejadian sebenarnya, karena yang bersangkutan tak suka namanya dikenal umum, maka nama sebenarnya dari keluarga ini dan nama tempat tinggal dan universitas yang kemudian menerimanya tidak disebut.

Digubah dari beberapa berita yang penulis baca, nama asli dan universitas tempat Minmin kuliah ada pada penulis.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,  

Leave a Reply