24 Rayuan dalam kehidupan manusia !!! (4/4)

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com
Diskusi antara SHAN MAO, Kera Sakti, Daoren, Sponbob, Dhinghu, FOX, Nan_S dan Cookies, pada Januari 2008.

Dibawah ini ada “6 Awan Warna Warni” yang bisa mengganggu orang di dalam mengenali kebenaran yang hakiki (Zheng Li), yaitu :
- ? (QU) = PERGI / KEPERGIAN?
- ? (LAI) = DATANG / KEDATANGAN?
- ? (TAN) = TAMAK / SERAKAH / KESERAKAHAN?
- ? (GEI) = BERI / MEMBERI / PEMBERIAN?
- ? ? (YIN MOU) = MUSLIHAT / SIASAT JAHAT / TIPU MUSLIHAT?
- ? ? (MO JI) = KEAHLIAN / KETRAMPILAN?

Itulah ke “6 Awan Warna Warni”yang bisa mengganggu pikiran seseorang di dalam mengenali kebenaran yang hakiki !!!

Hallo rekan2 semuanya, sudah 18 belas godaan yang kita bicarakan…, sekarang kita lihat godaan ke 19 yaitu “QI = Pergi / Meninggalkan”, godaan yang satu ini memang sering kali dapat menyebabkan kita jadi kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran yang hakiki.  Terutama bagi orang2 yang berniat SIUTAO dengan benar.   Dalam kehidupan manusia modern sekarang ini, kita dituntut untuk bisa melakukan pengaturan waktu sebaik mungkin, sehingga ketika kita mendengarkan Ciang TAO, belum sampai mendengarkan ceramahnya, terpaksa harus meninggalkan tempat pada separuh jalan !!!

Misalnya…, sering kali kita melihat ketika seorang SS sedang Ciang Tao dan sampai pada poin2 terpenting dalam pembahasan, mendadak… ada saja Taoyu yang terpaksa harus pergi meninggalkan tampat Ciang Tao, gara2 ada suatu keperluan yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya.   Padahal ada pepatah yang mengatakan : “TONG JUN YI YE HUA,  SHENG DU SHI NIAN SHU” yang artinya adalah “Bisa semalaman saja berdiskusi dengan orang yang lebih ahli, manfaatnya jauh lebih banyak dari pada membaca buku sendiri selama 10 tahun”.   Ha… ha… ha…

Ada lagi seseorang yang terpaksa memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah dengan berbagai alasan !!!   Jelas disini dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan !!!    Tapi… apakah manusia tidak boleh memutuskan untuk meninggalkan sesuatu demi mendapatkan kemampuan atau kesempatan yang lebih tinggi dan lebih baik ???    Bukankah itu juga merupakan sebuah keputusan yang mengandung sesuatu kebenaran juga ???    Nah… disinilah kita harus pandai2 untuk menguasai nafsu kita, dengan belajar untuk dapat menguasai diri kita sendiri.

Hanya orang2 yang telah menemukan AKU-nya, dia baru bisa mengetahui apa yang dia inginkan, sehingga dia secara sadar bisa mengambil suatu keputusan yang benar2 tepat.   Termasuk keputusan untuk meninggalkan sesuatu, misalnya : Kesempatan Berkarier ; Jabatan ; Menang Undian ; Kesempatan Membujang ; Kesempatan Foya2, dsb2., demi mendapatkan suatu kebenaran yang lebih hakiki !!!    Jadi intinya… SIUTAO-lah sebaik mungkin, supaya kita bisa menyadari dan mengenal siapa diri kita… yang sebenar2nya, sehingga kita bisa menguasai perilaku “PERGI” demi suatu kepentingan dirinya yang lebih benar !!!   Ha… ha… ha…

Setelah pergi… mestinya ada “LAI = Datang”,  yang termasuk godaan ke 20.    Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu selalu datang dan pergi silih berganti, karena itu penting sekali bagi diri kita… untuk selalu mempertahankan TAO !!!    Hanya demikianlah kita baru bisa selalu berada di dalam TAO dan tidak terpengaruh oleh hal2 di luar TAO yang kadang mendatangi kita, atau bahkan kalau kita tidak berpegang teguh pada TAO, bisa2 kitanya yang akan mendatangi hal2 atau perbuatan2 yang menyimpang dari TAO !!!

Memang pada kenyataannya… banyak orang yang “Runtuh” gara2 kedatangan oleh sesuatu hal yang penuh dengan “Daya Tarik”, apalagi kalau bukan MING dan LI !!!    Atau justru… banyak orang2 yang tadinya tidak tahu apa itu tempat maksiat, tapi karena dia mau saja diajak oleh teman2nya untuk datang ke tempat seperti itu, maka akhirnya… dia terjerumus ke dalamnya.    Disinilah… kita harus bisa menyadari… kalau saja seseorang itu bisa selalu teguh di dalam TAO, maka dia pasti akan bisa dan mampu untuk mengambil sikap atau keputusan… untuk tidak mengundang datangnya ataupun mendatangi kesempatan2, yang akan membuatnya terjerumus kepada hal2 yang bukan TAO !!!

Berikutnya kita membahas tentang godaan yang ke 21 yaitu “DAN = Serakah / tamak”.   Sifat yang satu inilah yang paling sering menghancurkan umat manusia, memang agak susah yah… melenyapkan godaan terhadap “Keserakahan” ini !!!   Banyak Umat yang SIUTAO, akhirnya “Jatuh” dan “Hancur” gara2 “KESERAKAHAN” terhadap sesuatu, baik itu MING atau LI, dsb.

Sebagai contoh : di dalam masyarakat sudah banyak contoh2nya, ada presiden yang gara2 keserakahannya, sampai dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri.    Pedagang yang tadinya sukses, gara2 keserakahan mencari keuntungan yang tidak legal, akhirnya jatuh bangkrut dsb2.

Dengan demikian kita bisa melihat bahwa “KESERAKAHAN”, paling mudah “Membutakan” hati nurani seseorang, oleh karena itu… kita harus ekstra waspada terhadap godaan yang satu ini !!!   Caranya adalah setiap hari kita harus belajar untuk bersyukur… bersyukur terhadap apa yang telah kita peroleh selama ini.   Kita harus bisa selalu mempertahankan “Rasa Berkecukupan” di dalam usaha kita memperbaiki kehidupan yang tidak mengenal lelah ini.     Ini bisa dipahami… kalau kita bisa mengerti ungkapan “ZHI ZHU CHANG ZHU, ZHONG SHENG BU RU” yang artinya “Bila bisa bersyukur, kita akan selalu merasa berkecukupan, maka seumur hidup tidak akan terjerumus ke dalam perbuatan yang memalukan !!!” Ha… ha… ha…

Nah… sekarang kita tahu bahwa semua manusia, kalau sudah terjerat oleh sifat “Keserakahan”, pasti maunya selalu berlebihan.   Sedangkan sifat “berlebihan” itu sudah menyimpang dari Sifat TAO (Sifat yang seimbang ; Adil dan Harmonis Sempurna).    Jadi… dalam setiap tindakan mungkin ada baiknya… kalau kita bisa selalu mengingatkan diri kita sendiri… bahwa… apakah perbuatan saya ini sudah termasuk kategori “Berlebihan” ???    Dan bisa selalu berpegang teguh kepada “Pola hidup yang sederhana dan sehat” !!!

Godaan yang ke 22, yaitu “KEI = Memberi”.   Suka memberi… termasuk sebuah sifat yang selalu dianjurkan dan diajarkan oleh setiap orang tua kepada anak cucunya !!!    Namun dalam hal “Memberi”, juga ada ilmunya… jangan asal memberi saja !!!    Karena pemberian kita kadang2… justru secara tidak disadari telah mencelakakan orang lain dan menghambat dirinya untuk mengenal suatu kebenaran yang sejati.    Kita sering melihat ada orang yang percaya, bahwa dengan memberikan sesuatu barang miliknya, maka dia telah berbuat amal dan terhindar dari malapetaka !!!    Itu kemungkinan benar sekali, tapi…sepanjang pemberian itu digunakan dijalan yang benar, seperti : biaya operasional KELENTENG ; biaya pencetakan kitab suci ; biaya pembangunan tempat ibadah ; bantuan untuk para korban bencana alam ; bantuan untuk pengobatan orang miskin ; dsb2.

Namun… kalau itu diberikan kepada orang2 yang mentalnya memang kurang baik, maka justru akan menjerumuskan orang2 tersebut kedalam sifat pemalasnya, suka berpura2 miskin dan bersikap munafik, di depan orang lain sepertinya giat bekerja, tapi sebenarnya malas sekali, inginnya cuma mengemis2 dsb2.  Bayangkan dalam hal ini, apakah kita termasuk salah satu pihak yang mendorong orang lain menjadi “Mental Pengemis” ???    Apakah itu bukanlah dosa yang sesungguhnya yang dibuat oleh orang2 yang suka memberi tanpa dipikir panjang terlebih dahulu ???

Oleh karena itu, dalam hal memberipun kita harus memperhatikan banyak hal, agar supaya… pemberian kita tidak malah menjadi sumber dosa baru !!!    SIUTAO itu sebetulnya susah, makanya NABI LAO ZI pernah memberikan ilustrasi bahwa “Orang suci dalam menjalani hidupnya selalu berhati-hati, bahkan saking hati2nya bisa diibaratkan seperti orang yang sedang berjalan diatas permukaan sungai yang sedang ditutupi oleh lapisan es di musim dingin !!!”    Ha… ha… ha…

Karena itu… kita juga selalu dinasehati… untuk bisa selalu bersikap tegar yang sesungguhnya, artinya… tidak mudah timbul rasa suka cita yang berlebihan atau rasa kasihan atau sedih yang berlebih2an, ketika berhadapan dengan sesuatu kondisi kehidupan !!!    Dengan demikian… kita bisa selalu mempertahankan KETENANGAN, yang sangat dibutuhkan untuk berpikir mencari solusi yang benar !!!

Dari pada pusing, maka ingat2 saja hal2 sederhana dalam berbuat KUNG TEK yang nyata, misalnya… membantu membersihkan TAO KUAN atau  KELENTENG ; membiayai merenovasi tempat ibadah ; menyumbang kepada orang yang sedang sakit dan miskin ; menyumbang untuk pembuatan fasilitas umum seperti jalan di komplek perumahan ; jalan di sekeliling tempat ibadah ; jembatan, dsb2 (pokoknya yg bersifat umum lha !!!)    He… he… he…

Spontanitas sangat diperlukan untuk berbuat “Kebaikan”, karena pada umumnya manusia awam memang lebih susah untuk diajak berbuat baik !!!    Tapi… yaitu tadi, segala sesuatu harus dipertimbangkan masak2, sebelum kita melakukan sesuatu.    Kadang2… memang kita jadi “TERPAKSA” harus menimbang2, apakah manfaat baiknya lebih besar dari manfaat buruknya ???   Semua tergantung tujuan utama perbuatan kita !!! (kalau yang ini sih masih ada pamrihnya !!!)   Tapi…. yah… itulah kehidupan bermasyarakat !!!   Ha… ha… ha…

OK, sekarang kita masuk ke godaan yang ke 23, yaitu “YIN MOU = Suka menyiasati demi kepentingan sendiri atau Menyiasati orang lain dalam konotasi negatif !!!“    Dunia ini makin tua semakin kacau… ditengarai gara2 manusia2 zaman sekarang ini suka sekali menyiasati orang lain, hanya demi keuntungan diri sendiri !!!   Yah… biang keladinya terutama sifat ketamakan terhadap MING dan LI !!!   Kita lihat saja disekeliling kita, banyak manusia yang mengejar kekayaan dengan menghalalkan segala cara !!!   Cara yang paling sering digunakan adalah menyiasati orang lain demi keuntungan diri sendiri atau kelompoknya sendiri !!

Nah… setelah makin banyak harta, perangainya jadi berubah menjadi seperti perangai binatang, sehingga timbul semboyan, “Asalkan aku mau (maksudnya dengan kekuatan uang dan kekuasaan !!!) apapun bisa aku kerjakan !!!”   Akhirnya… segala perbuatan biadab dalam bentuk apapun dilakukan oleh manusia2 keblinger itu, menghalalkan segala cara… untuk mengeruk kekayaan yang semakin banyak !!!    Sehingga dimana2 ada penindasan ; penipuan ; kemoenafikan ; kekerasan ; kesengsaraan, dsb2.   MANUSIA2 ITU LUPA…,  LUPA KALAU KEMATIAN TIBA…  MAKA TAK SEPERSENPUN HARTA BENDANYA BISA IKUT DIBAWA MATI !!! MALAHAN SEBALIKNYA, HANYA AKAN MEMBAWA NAMA BUSUK SAJA !!!    He… he… he…

Nah… dengan demikian supaya kita bisa menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat, kita harus bisa menjauhi segala “siasat politik / YIN MOU ” yang hanya bertujuan mencelakai orang lain !!!  Bagi orang SIUTAO, kita harus bisa untuk selalu berpikir… bagaimana caranya membantu orang lain, kalau belum bisa… yah… minimal berpikir bagaimana agar diri kita tidak merugikan orang lain !!!   Dengan demikian… walaupun belum tentu berbuat Kung Tek…., tapi minimal… kita tidak berbuat dosa !!!

Akhirnya… sampai juga yang ke 24, yaitu “MOU CHI = Ketrampilan / Kompetensi / Keahlian”.   Sebagai manusia… kita diwajibkan untuk mempelajari sebanyak mungkin ketrampilan hidup, supaya minimal kita bisa mencari nafkah dalam hidup bermasyarakat dengan batas2 kewajaran !!!     Jadi suatu ketrampilan itu memang sangat bermanfaat bagi umat manusia, apalagi kalau suatu ketrampilan yang jarang dimiliki oleh orang lain !!!     Pastilah sangat prestisius bagi yang memilikinya !!!     Namun sayang semuanya itu selalu ada segi positif dan negatifnya, oleh karena itu yang harus kita diwaspadai adalah “JANGAN SAMPAI KEAHLIAN YANG KITA MILIKI MALAH MEMBUAT KITA BUTA TERHADAP KEBENARAN HAKIKI !!!, Malah menjauhkan diri kita dari TAO !!!”

Ambil saja contoh : seorang artis bintang laga kungfu yang sangat terkenal pada era tahun 70an, akhirnya stress… sampai2 meninggal dengan gossip keracunan narkoba dan perbuatan maksiat !!!    Kejadian ini sekaligus menunjukkan kebenaran sebuah pepatah yang mengatakan bahwa  “Makin kaya seseorang… maka makin mudah terjerumus ke dalam perangkap perbuatan maksiat dan perbuatan berzinah atau selingkuh !!!    Kalau sudah begini…, maka jelas bahwa suatu ketrampilan terutama ketrampilan khusus, kalau tidak dijaga dengan benar, maka sering kali justru akan mencelakai pemiliknya !!!

Ada sebuah nasehat dari orang bijak yang mengatakan : “Jangan takabur dalam limpahan harta benda yang diberikan kepadamu !!!    Dan tetap teguh imanmu, serta berbahagialah dirimu walaupun materi serba pas pasan !!!   Proses bekerja dan berusaha, serta cara menggunakan harta itulah, yang merupakan ujian sesungguhnya dalam usaha TEK TAO bagi para UMAT TAO sekalian.”     SEDERHANA YAH… TAPI SANGAT BERCIRI TAO !!!    Ha… ha… ha…

Nih… ada sebuah cerita : Seorang pemburu yang tinggal di tepi hutan, setiap hari selalu memburu binatang yang ada didalam hutan.   Setiap dia mendapatkan seekor binatang, maka dia merasa sangat senang dan bangga sekali.   Ada sebuah perasaan… bahwa dirinyalah sang raja hutan yang sebenarnya !!!    Makin lama…, sang pemburu mulai makin sulit untuk mendapatkan binatang buruannya, karena semua binatang yang hidup dalam hutan menjadi semakin pandai mencari tempat persembunyiannya dan pandai menghindari diri dari sang pemburu, akhirnya sang pemburu tidak bisa mendapatkan apa2 lagi “karenanya”.

Ah… coba kalau pemburu itu bisa meredam KESERAKAHAN, lantas berwawasan bahwa dia harus belajar seperti langit dan bumi yang bersifat sebagai rumah bagi semua binatang yang ada di hutan, maka semua binatang pasti tidak akan bersembunyi lagi, hutan pasti akan semakin bersemarak dan harmonis karenanya.

Dengan demikian, selesailah sudah topik 24 godaan ini !!!

Bagi Umat TAO adalah UMAT yang belajar dan mengerti Ajaran AGAMA TAO dengan benar, keyakinannya sangat teguh terhadap Ajaran AGAMA TAO, sehingga mau mengamalkan segala Ajaran AGAMA TAO ke dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.    Ciri2 utama Umat yang demikian itu adalah menonjolnya sifat “JING CING WU WEI atau selalu berbuat kebajikan dengan tanpa pamrih“.   Akibatnya… orang2 yang demikian ini jelas lebih mudah menjauhi segala sifat SERAKAH, misalnya keserakahan terhadap MING dan LI, keserakahan terhadap nafsu birahi dan nafsu2 lainnya.   Jadi yah… memang sebagai KOMPAS… sifat JING CING WU WEI-nya itu, dengan kompas ini kita bisa keluar dari kepungan “Awan Warna Warni” yang ada dalam kehidupan umat manusia.    Ha… ha… ha…

Jing = tidak terpengaruh atau terkungkung oleh hasrat nafsu keduniawian (misalnya keserakahan terhadap MING dan LI, keserakahan nafsu birahi dan nafsu2 lainnya”).
Cing = pikiran tenang dan berhati bening (di dalam ketenangan ada kepandaian).
Wu Wei = Tidak berbuat adalah Tidak “tidak berbuat”.

“Ada kesempatan berbuat jahat, tapi tidak mau berbuat, itu adalah SAN (Kebajikan).”     “Dapat berbuat kebaikan tapi tidak sudi berbuat, itu adalah bejat.”

Jadi… supaya kita bisa membedakan mana itu “Kebaikan dan mana itu kebajikan, maka kita harus selalu :
- Meluaskan pandangan kita.
- Meningkatkan level ilmu pengetahuan kita.
- Meluaskan pengalaman hidup kita.
- Memperdalam SIUTAO kita. dsb2.

Pengetahuan dan pengalaman juga merupakan modal utama dalam memperdalam SiuTao kita.   Mungkin kita semua termasuk saya, sering kali mendengar perkataan “Dahulukan berbuat Kebajikan”, dengan alasan… “Baik” belum tentu “Bijak” atau mengandung “Kebajikan”.   Sedangkan “Kebajikan atau “Bijak”, biasanya baik… sehingga selama ini saya pun memandang bahwa “Kebajikan nilainya lebih tinggi dari pada “Kebaikan”.   Apakah yang demikian itu benar adanya ???

Nah… soal “Bijak” atau tidak … itu penilaiannya membutuhkan waktu yang panjang, karena level kepandaian spiritual masing2 umat manusia itu berbeda-beda !!!    Yah… seperti kalau kita menghadapi anak TK (dalam kehidupan nyata!), walaupun kita tahu bahwa permen itu kurang baik untuk kesehatan gigi, tapi kalau sekali2 memberi permen yah… ngak apalah (itu baik juga!), asalkan diajari juga cara menggosok gigi !!!

Kecuali… kita mau meluangkan banyak waktu dan pikiran dengan pandangan jauh ke depan !!!   Maka bisa saja cara membujuk dan mendidik kita adalah dengan memberikan pengetahuan2 sederhana tentang kejelekan dari permen, sambil mencarikan makanan sehat lainnya yang dibuat sedemikian rupa, supaya digemari anak2 untuk diberikan kepada anak TK itu sebagai pengganti permen !!!

Untuk menjadi “Bijaksana”, seseorang memerlukan proses pelatihan diri supaya bisa memiliki “PANDANGAN YANG LEBIH JAUH KEDEPAN”, sehingga dirinya bisa mampu melihat apa yang belum bisa dilihat oleh orang lain !!!

“Pandangan yang lebih jauh kedepan” adalah harus bisa melatih diri sampai punya pandangan bahwa “Nama dan Jasa” (MING dan LI) itu pada dasarnya tidak berbeda dengan Gelembung Sabun saja !!!”    Yang namanya “Gelembung Sabun” biasanya berwarna warni, cantik sekali kalau diterpa sinar matahari, namun… hanya dapat bertahan sebentar saja, kemudian pecah dan lenyap !!!  Begitu juga dengan “Nama dan Jasa”, biasanya hanya sebentar diingat manusia, lantas dilupakan begitu saja !!!

Nah… sekarang kalau sudah tahu begitu… merupakan suatu tindakan yang guoobluookk-sekali, kalau sampai ada orang yang selalu mengejar2 “Nama dan Jasa” dalam setiap akan melakukan perbuatan !!!    Orang2 yang demikian itu… berarti “Pamrih”nya masih kental, sehingga dalam setiap perbuatannya selalu terbatasi oleh “Keinginan” bagaimana sedapat mungkin meraih keuntungan “Nama dan Jasa”, maka setiap langkah dan tindakannya… tidak bisa tuntas dan selalu takut kalau perbuatannya justru akan merugikan dirinya.

Berbeda dengan orang2 yang “Tanpa Pamrih”, mereka selalu berpikir bagaimana melakukan perbuatan yang berguna untuk orang lain atau untuk masyarakat.   Bahkan… kalau perlu mengorbankan dirinya demi kepentingan masyarakatnya !!!    Orang2 yang demikian ini, pertimbangannya selalu demi orang lain dan karena dirinya tidak terbebani dengan bagaimana mencari “Nama dan Jasa” untuk kepentingan diri pribadinya, maka… biasanya pikiran orang2 seperti itu… jauh lebih Jernih ; Bersih dan Lepas atau Merdeka, sehingga secara otomatis bisa lebih cerdas dan bisa melihat hal2 yang lebih jauh, yang belum bisa dilihat oleh orang lain.

Jadi yah… wajar saja… orang2 yang sudah mencapai level “Jing Cing Wu Wei”, mereka pasti punya pandangan yang lebih jauh ke depan.    TAPI SEBALIKNYA… KALAU ADA ORANG2 YANG NGAKU SEBAGAI TITISANNYA DEWA INI ; DEWI ITU ; ATAUPUN TITISAN BUDDHA INI ; BUDDHA ITU.   JELAS… DIA ITU MASIH TERIKAT OLEH PAMRIH NAMA BESAR DEWA / DEWI DAN BUDDHA !!!   MAKA…. SEBAIKNYA KITA JANGAN PERCAYA DENGAN PERKATAAN ORANG2 BEJAT SEPERTI ITU !!!   Ha… ha… ha…

Nah kalau Seorang Sesepuh Keagamaan mengkritik Seorang Politikus yang tidak punya hati nurani secara Ajaran Agama, tentu sang “Tikus” pun maklum adanya toh.    Tapi… kalau Sang Sesepuh Agama itu berlagak politikus dan mengkritik dengan gaya seorang politikus, maka dia sendiri akan menjadi “Tikus” juga !!!    Akhirnya yah… jelas akan gampang mendapat musuh, sebagai akibat dari sesama “Tikus” yang berebutan rejeki !!!   Ha… ha… ha…

Sejarah telah membuktikan hal itu, misalnya… di Tiongkok pada zaman dulu ada suatu pemberontakan yang dilakukan seorang tokoh agama (menggunakan Agama tertentu sebagai alat untuk memberontak), setelah banyak pengikutnya… mulai deh luntur pandangan spiritual pemimpinnya, sang pemimpin bahkan menjadi lebih sangat arogan dari politikus2 pada umumnya.   Dia itu bahkan berani membohongi pengikutnya… kalau dia itu dapat “wahyu” langsung dari Tuhan (dengan tujuan untuk menipu rakyat dan menakut-nakuti musuhnya !!!).

Akibatnya… kecerdasan pemimpin itu jadi tertutup oleh nafsu untuk bagaimana membodohi para pengikutnya, semua siasat perangnya jadi tumpul dan rendah mutunya (gara2 pandangannya tidak jauh ke depan !!!), akhirnya yah jelas saja… kalah total secara menyedihkan !!!   Ini ada dicerita sejarah “Pemberontakan THAI BIN THIAN GUOK” !!!

Pada zaman sekarang ini… sepertinya juga ada gejala2 dibeberapa aliran agama, seperti Agama B di Tibet itu !!!    Ini berbahaya deh…, bisa2 nanti image Agama B hancur menjadi agama yang mengajari Para Pengikutnya untuk menjadi pengacau dan perusak keharmonisan hidup bermasyarakat !!!    Oleh karena itu… Politik sebaiknya jangan dicampur adukkan dengan Agama…, Para Tokoh Agama juga harus ekstra hati2… jangan sampai diperalat oleh Para Politikus !!!    Ha… ha… ha…

SIUTAO memang banyak halangannya, namun jika kita selalu berusaha untuk memupuk hati nurani dengan benar, maka kecerdasan dan pengalaman2 hidup kita akan dapat membantu untuk selalu berbuat tanpa pamrih demi orang banyak, sehingga lama kelamaan kita dapat memiliki pandangan yang lebih jauh lebih kedepan, dari pada orang2 lain.

Sebagai orang yang SIUTAO, kita harus sadari bahwa… keluarga kita termasuk orang2 yang pertama kali harus kita bantu seberangkan ke level ZHEN SHAN MEI melalui jalan TAO, oleh karena itu yah… justru keluarga sendiri yang harus disadarkan. Kalau sudah demikian, rasanya akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi segala masalah yang mungkin timbul dalam perjalanan SIUTAO kita.

Abstrak dan kongkrit saling menjelma-jelma.
Keseluruhan menjadi tak ada batasnya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,  

Leave a Reply