Pandangan Kaum SIUTAO terhadap Kitab SUCI

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com

Diskusi antara Bro Nan_S dan Bro SHAN MAO, pada Januari 2008

Hallo semuanya, saya merasa bingung ketika melihat suatu perdebatan dimana ada satu kelompok yang berusaha menyerang kelompok lainnya hanya karena kelompok yang menyerang tersebut merasa Kitab Suci yang digunakan, Sila2/Jie2 dan Upacara2 yang dijalaninya dirasa paling hebat dan paling asli, terus terang saya benar2 merasa heran, apakah si penyerang ini merasa tindakannya dilandasi alasan yang cukup berdasar ?   Ataukah mereka merasa bahwa inti ajaran terletak pada sila2/jie2 atau bentuk2 upacara ?   Wah… wah… wah… saya rasa mereka malah jauh diri WU !!!

PANDANGAN KAUM SIUTAO TERHADAP KITAB SUCI, SILA2/JIE2 dan TATA RITUAL/UPACARA

Pada zaman dahulu Perguruan2 Spiritual TAO di Tiongkok selalu bersifat horizontal, dari Guru turun ke Murid dimana masing2 perguruan bersifat independent dan tidak ada penyeragaman aturan yang baku antar perguruan yang satu dengan perguruan lainnya  baik dalam cara ritual, upacara maupun aturan2 lainnya.    Ajaran berserta aturan2 dari masing2 perguruan tsb kemudian diwariskan pada generasi selanjutnya secara terus menerus, sehingga dalam kurun waktu yang lamaa… sekalee, pastilah ada revisi2 yang dilakukan.

Dari hal tersebut sebenarnya secara nalar seharusnya kita bisa mengerti kenapa kitab suci agama TAO menjadi sangat banyak dan bervariatif, ini semua tidak lepas dari banyaknya Aliran TAO dan Para Sesepuh TAO zaman dahulu yang ingin mewariskan ajaran TAO yang dipahaminya dengan cara membukukannya yang kemudian oleh generasi2 selanjutnya disebut sebagai “Kitab Suci” dengan kata lain ajaran TAO telah ada jauh sebelum kitab suci agama TAO ditulis dan maksud dari penulisan Kitab Suci adalah agar ajaran yang telah diterima/dicapai oleh si Penulis dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.

Sebagai Kaum SiuTao yang mengutamakan WU, kita pasti mengerti bahwa pada awalnya tidak ada aturan baku dalam pembuatan kitab suci pada zaman dulu, semua kitab suci adalah buah karya WU Para Sesepuh kita dimasa lalu, sedangkan setiap bentuk ritual dan upacara pasti ada dasar filosofisnya.   Harus kita pahami SIUTAO tidak boleh menjadi kaku dan dogmatis sebab kita harus melangkah kedepan lebih maju.   Belajar dari buah karya WU Para Sesepuh dimasa lalu untuk menjadi lebih maju adalah baik, tapi kalau hanya mengekor ke buah karya WU Para Sesepuh masa lalu adalah salah kaprah.

Oleh karena itu yang harus dipahami dari setiap kitab suci, upacara, dll dalam agama TAO adalah “Makna” beserta “Kebenaran Hakiki” yang terkandung di dalamnya dan mencoba mengerti manfaat, nilai2, serta hakekat dan intisari yang ingin disampaikan kitab suci/ritual tersebut untuk generasi selanjutnya.   Bukan melafal kitab suci menjadi “KENG”, begitu pula dalam upacara2 yang biasa kita lakukan, jangan sampai kita tidak mengerti makna dan manfaatnya dari upacara tsb.

Setelah melihat penjelasan diatas, mungkin muncul pertanyaan :
1. Darimana munculnya penyeragaman bentuk upacara, kitab suci yang digunakan, aturan2 tsb ?
2. Apa dasar penyeragaman yang dilakukan tsb ?
3. Apakah saat ini seluruh aliran TAO di dunia ini harus mengikuti penyeragaman itu ?

Penyeragaman bentuk upacara, kitab suci, aturan2 :

Sejauh referensi yang saya baca (saya lupa buku2nya, tapi nanti saya tuliskan disini deh, pasti!!), penyeragaman bentuk upacara, kitab suci, aturan2 dimulai sejak abad ke 2, oleh para perguruan2 TAO Aliran Utara setelah masuknya Agama Buddha.   Para Kaum Taoist Aliran Utara merasa pola yang diterapkan “Agama Import” tersebut bisa memperbaiki berbagai aspek baik secara organisasi maupun pembinaan individu sekaligus bisa menciptakan image2 tertentu yang mereka rasa perlu, maka mereka mulai meniru pola agama import tersebut dan Para Aliran TAO Utara membentuk suatu “Kepausan” (seperti Agama Katholik–>Vatikan) ala Agama TAO di Bay Yun Guan, dimana penyeragaman mulai terjadi di sini, sedangkan pada zaman itu Aliran2 TAO dari Selatan tidak mengikuti pola ini.

Terus terang kita semua tahu sejak zaman Nabi Lao Zi, beliau tidak pernah mengajarkan Jie2/Sila2, maupun aturan2 baku yang membuat banyak kekakuan.   Kita tahu bahwa pelopor aturan2 baku adalah Kong Hu Cu/Konfusius bukan Lao Zi, sedangkan Lao Zi selalu menitik beratkan pada WU dan CERAN (alamiah/kaedah2 alamiah) dalam kehidupan manusia.   Jadi oknum2 yang menganggap bahwa Jie2/Sila2 sebagai “Inti Ajaran” dalam upayanya untuk mempropaganda aliran lainnya benar2 pantas ditertawakan… huahahahahahhahaha…

Dasar pernyeragaman :

Sebenarnya dasar dari penyeragaman selain yang telah dijelaskan pada poin diatas adalah “semangat persatuan”, agar seluruh “Aliran” dan “Perguruan” bisa bersatu dan tidak gontok2an.   Ini bisa dilihat dari usaha yang dilakukan untuk mengumpulkan/mempersatukan Kitab2 Suci Agama TAO dari berbagai aliran yang dilakukan pada zaman Dinasty Ming yang kemudian kumpulan kitab2 suci tsb disebut “Zhentong Daozang” (thn 1445).

Lalu apakah semua kitab suci agama TAO tercatat dalam Daozang tsb?     Jawabannya pasti TIDAK, Kitab Suci Agama TAO terlalu banyak dan memang sulit mengumpulkan/mencari Kitab2 Suci tersebut, dimana banyak Aliran/Perguruan yang tertutup untuk memberikan Kitab2 Pusaka-nya untuk orang di luar perguruan.

Dan apakah semua aliran TAO yang ada menggunakan Daozang ini sebagai kitab suci dan acuannya ?   Jawabannya juga pasti TIDAK, kita juga tahu bahwa ada julukan Topi Merah dan Topi Hitam, dimana Topi hitam menggunakan Daozang sebagai acuannya, sedangkan Topi merah TIDAK menggunakan Daozang sebagai acuannya (mengenai Topi Merah & Topi Hitam ini saya lupa baca dimana, tapi pembaca disini mungkin ada yang bisa membantu menuliskan referensinya..tolong ya..)

Nah…, jadi sebenarnya jika ada oknum2 menganggap Kitab Suci diluar Daozang sebagai kitab yang tidak asli, itu menunjukkan oknum tersebut sangat subjektif sekali dan masih harus banyak belajar, he… he… he…

Apakah seluruh aliran TAO di dunia ini harus mengikuti penyeragaman itu :
Untuk aliran dan perguruan yang bernaung dibawah Asosiasi tertentu, pastilah harus mengikuti penyeragaman yang disepakati oleh Asosiasi tsb, namun untuk yang diluar Asosiasi tsb, tentulah tidak perlu ikut2an penyeragaman tsb.

Sebagai kaum SIUTAO, janganlah kita terkotak-kotak oleh Asosiasi, Organisasi, maupun segala bentuk pengkotakan lainnya, sebab secara objektif kita tahu maksud dibentuknya Asosiasi, Organisasi, dan lain2nya adalah untuk tujuan yang BAIK bukan untuk mengkotak2an Umat TAO.   Lihatlah… bahwa semua Aliran TAO sebagai keluarga besar yang bernaung dibawah MAHA DEWA THAY SANG LAUW CIN !!!

Note : tolong ditambahkan dan dikoreksi ya…

Tapi, itulah yang namanya manusia, manusia yang belum bisa lepas dari MING dan LI, Untungnya semua aliran AGAMA TAO masih berpegang teguh bahwa KITAB SUCI TAO TEK CING yang merupakan Kitab Suci paling utama dalam AGAMA TAO.    Dimana LAO ZI merupakan NABI AGAMA TAO bagi semua aliran Agama TAO, sehingga bisa tetap bersatu dalam keaneka ragaman aliran.

Yah… itulah AGAMA TAO yang mencerminkan sifat alam semesta dalam keanekaragaman Alirannya.    Walaupun berbeda-beda, namun tetap bersatu di dalam TAO.    Ha… ha… ha…

Oh iya, ini di buku “Folklor Tionghoa – James Danandjaja” juga ada.

Tags: , , , , , , , ,  

1 Comment

  1. halo selamat pagi… saya mau tanya, apakah buku folklor tionghoa yang anda punya masih ada? saya ingiiin sekali baca, tapi di Surabaya sudah saya cari kemana-mana tetep aja ngga ada. apakah mungkin kalo saya ingin meminta copy dari buku tersebut? tolong hubungi saya jika bisa membantu, terimakasih.. email : panigorocarrisa@gmail.com

    Reply

Leave a Reply