BU KE JIU YAO : Sudah tahu jelek tapi tidak mau mengubah diri.

Diambil dari Buku berjudul “101 Kisah Bermakna dari Negeri China”.

BU KE JIU YAO : Sudah tahu jelek tapi tidak mau mengubah diri.

Pada zaman Dinasti ZHOU (1027-256 SM), ada seorang Raja yang oleh rakyatnya dipanggil ZHOU LI WANG.   Ia bukanlah Raja yang baik dan bijaksana bagi rakyatnya.   Ia sama sekali tidak perduli administrasi negara, termasuk manajemen pemerintahannya.   Ia juga tidak perduli terhadap para penasehat kerajaan. Ia bertindak semaunya sendiri dan sama sekali tidak perduli soal rakyat dan bawahannya di istana.   Bukan hanya itu, ia juga suka menyalah gunakan kekuasaan untuk keuntungan dan kesenangannya sendiri.   Siapa yang tidak hormat kepadanya akan dihukum, apa lagi siapa yang berani mencoba2 tidak patuh terhadapnya, pasti akan dijatuhi hukuman yang sangat berat.

Masih banyak lagi perbuatannya yang meresahkan rakyat.   Hal ini membuat rakyat dan pegawai istana pada umumnya membencinya.   Para pegawai istana dan juga para penasehat kerajaan serta rakyat yang masih perduli terhadap keutuhan negara sering berembuk dan mencari cara dan waktu yang tepat untuk memberi masukan dan mengingatkan Raja ZHOU LI WANG.

Salah satu pegawai yang paling resah akan tindak tanduk ZHOU LI WANG adalah FAN BO.   Setiap kali melihat bahwa sebagai Raja, ZHOU LI WANG hanya tahu makan dan minum yang enak, tanpa perduli sedikitpun terhadap persoalan rakyat dan negara, sakit hatinya bertambah.   FAN BO selalu berfikir dan mencari jalan yang terbaik untuk memberikan Raja pelajaran yang tepat agar mau berubah.   Namun, kesempatan untuk menegur dan memberi pelajaran kepada ZHOU LI WANG belum juga datang.

Pada suatu hari, ZHOU LI WANG merasa bosan dengan dirinya dan juga dengan segala aktivitasnya sehari2.   Hari itu ia tidak punya semangat hidup lagi, semua yang dibuatnya sama sekali tidak ada artinya.   Ia terus merenung di atas tempat tidurnya sampai ia berfikir, “Sudah lama aku tidak mengadakan rapat dengan para menteri dan memikirkan persoalan negara.   Hari ini lebih baik aku pergi  menemui mereka semua, barangkali ada sesuatu yang menarik hari ini.”

Setelah ZHOU LI WANG tiba dan bertemu dengan semua menterinya, sambil cengar-cengir ia bertanya, “Apa ada sesuatu yang hendak disampaikan kepada saya ? “

Pucuk dicinta ulam tiba, demikian pikir FAN BO yang sudah sekian lama menunggu kesempatan ini.   Segera ia berdiri dan berkata dengan tegas dan penuh kesungguhan, “Baginda Raja, di luar sana semua rakyat sudah tidak puas dengan kinerja kita.   Kehidupan merekapun semakin lama semakin sengsara.   Baginda sendiri sering berbuat sesuatu yang menyengsarakan dan meresahkan mereka.

Di sini aku, FAN BO, menterimu memohon agar Baginda mau mengubah kebiasaan buruk selama ini.   Jika Baginda tiap hari mau memikirkan bagaimana membangun negara dan menyejahterakan rakyat, maka semua itu pasti bisa terjadi.   Jika mulai hari ini Baginda mau pergi berbuat baik kepada rakyat, maka negara ini dengan cepat akan maju dan rakyat serta semua pegawai istana akan mencintaimu !”

Raja tidak terlalu senang mendengarkan semua perkataan berani mentari FAN BO.   Seketika air mukanya berubah dan menunjukkan bahwa ia menahan marah.   Orang2 dekat ZHOU LI WANG, yang sebenarnya tidak begitu suka terhadapnya, juga tidak berani menegurnya.   Mereka juga tidak ingin berkata kepada FAN BO karena ucapannya memang benar dan sesuai dengan keinginan hati mereka sendiri.   Tetapi karena melihat Raja ZHOU LI WANG sudah akan marah besar dan karena tetap ingin menjadi orang dekat Raja, maka orang2 dekat Raja pun menjawab ucapan FAN BO, “Raja kita, ZHOU LI WANG adalah orang pintar, beliau tidak perlu tiap hari mengurus negara, tetapi semuanya bisa berjalan dengan baik.   FAN BO, kamu ini hanya seorang menteri biasa yang tidak terlalu penting dalam kerajaan ini, tahu apa kamu !”

Setelah menyanggah FAN BO, mereka pun melihat Raja ZOU LI WANG mulai tersenyum.

Walau pulang dengan tersenyum karena ada orang dekatnya yang membela dia, namun Raja sendiri tertegur keras akan ucapan FAN BO.   Ucapan FAN BO membuatnya merasa menjadi Raja yang gagal dan karena itu ia semakin tidak berniat mengurus persoalan negara.   Kerajaan pun makin lama makin buruk keadaannya.   FAN BO sangat susah hatinya ketika mengetahui Raja sangat terpukul akan ucapannya.   Ia bermaksud agar Raja berubah, rakyat dan negara akan merasakan dampak baiknya.   Namun, yang terjadi justru membuat Raja semakin malas dan negarapun semakin berantakan.

Dengan geram FAN BO menulis sebuah syair.    Syair itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap ZHOU LI WANG dan juga menteri kepercayaannya yang hanya tahu menjilat Raja.   Syair itu juga mengandung pelajaran, bagaimana bersikap terhadap Raja dan para menteri munafik tersebut.   Syair itu kemudian dikenal dengan nama BAN (NG).

FAN BO berkata kepada dirinya sendiri, ” Walaupun aku sudah tua, tetapi ucapanku sudah kupertimbangkan matang2 dan semuanya sesuai fakta.   Raja dan orang2 dekatnya sudah banyak sekali membuat kejahatan dan menyusahkan rakyat.   “Jilat menjilat” demi kesenangan dan keuntungan sendiri yang mereka lakukan sungguh2 sudah BU KE JIU YAO yang artinya perbuatan jelek yang mereka lakukan sungguh2 keterlaluan dan sulit untuk mengubahnya.”

Tidak lama setelah itu tulisan dan syair FAN BO sungguh mempengaruhi rakyat.   Rakyatpun bersatu dan menurunkan ZHOU LI WANG dan para menteri munafik dari kedudukan mereka.   Setelah mereka turun, situasi berangsur2 membaik.   Sejak saat itu orang akan berkata BU KE JIU YAO kepada orang2 yang sudah tahu kejelekan dan kelemahannya sendiri, tetapi tidak mempunyai niat untuk mengubahnya.

MUTIARA HIKMAT :

Jika kita sudah mengetahui kelemahan dan kejelekan sendiri, usahakanlah sekuat tenaga untuk mengubahnya.   Pikirkanlah cara yang terbaik dan usaha yang tepat untuk mengubah yang jelek dan yang lemah itu,  supaya kita bisa menjadi orang yang berguna.

Para pemimpin yang berjuang demi kesenangannya sendiri dan penuh kemunafikan, terkadang perlu diturunkan agar keadaan bisa berubah menjadi semakin baik.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,  

Leave a Reply