Han Tan Kong (Zhao Gong Ming)

Terlampir saya tuliskan “Hikayat” HAN TAN KONG yang saya ambil dari buku “Dewa Dewi Kelenteng” terbitan Yayasan Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu – Semarang.

zhaogongming

Xuan Tan Yuan Shuai (Hian Tan Goan Swee – Hokkian) seringkali disebut Cai Shen Ye (Jay Sin Ya – Hokkian) atau Dewa Kekayaan.

5htkj

(ini adalah Altar Kongco Han Tan Kong yang terdapat di Kelenteng Han Tan Kong – Cileungsi).

Dewa ini mempunyai wilayah pemujaan yang luas dan termasuk yang paling populer, karena kepercayaan yang menyatakan bahwa dari tangannyalah rejeki manusia berasal.

Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling banyak dikenal adalah Riwayat Zhao Gong Ming  (Tio Kong Beng-Hokkian) yang diambil dari novel Feng Shen. Dalam novel itu diceritakan antara lain sebagai berikut :
Kaisar Zhou-Wang (Tiu Ong-Hokkian) dari Kerajaan Shang memerintahkan Jenderalnya yang kenamaan Wen Zhong (Bun Tiong-Hokkian) untuk menyerbu Xi-Chi, basis pasukan Wen Wang (Bun Ong-Hokkian). Untuk mencapai maksudnya itu, Wen Zhong minta bantuan enam orang sakti mandraguna, guna membentuk formasi barisan yang disebut Shi-Jue-Zhen (Sip Ciat Tin-Hokkian) atau Barisan Sepuluh Pemusnah. Tapi Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan enam diantaranya. Melihat kekalahan dipihaknya Wen Zhong minta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu bertapa di Gua Lou-Fu Dong, pegunungan E Mei Shan (Go Bi San-Hokkian).

Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor “harimau besar” menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan kedua jari tangannya. Dengan “angkin” diikatnya leher si raja hutan, kemudian dikendarai. Pada dahi harimau itu kemudian ditempelkan selembar “FU” atau surat jimat. Untuk selanjutnya si raja hutan tunduk di bawah perintahnya dan menjadi tunggangannya.

Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa ratus jurus Zhao Gong Ming mengeluarkan “Ruyung Sakti“nya dan menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh dan tewas. Tapi untung, datanglah Guang Cheng Zi (Kong Sheng Cu-Hokkian) ia menolong Zi Ya dan dia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren (Ui Long Cin Jin-Hokkian) keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi tertawan oleh “Tali Wasiat” Gong Ming. Chi Jing Zi dan Guang Cheng Zi pun terpukul jatuh oleh Pertapa yang berkesaktian segudang itu.

Tapi kemudian Zi Ya mendapat bantuan seorang sakti dari pegunungan Wu-Yi yang bernama Xiao Sheng. Semua barang wasiat Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Merasa kehilangan muka, Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau Tiga Dewa) untuk menemui seorang pertapa wanita yang sakti, Yun Xiao Niang Niang. Kepada Yun Xiao Niang Niang, Gong Ming meminjam sebuah “Gunting Wasiat” untuk merebut kembali wasiat2nya yang dirampas musuh.

Ternyata “Gunting Wasiat” itu adalah dua ekor naga yang berubah rupa, sebab itu kemampuannya luar biasa. Banyak dewa2 sakti dari pihak Zi Ya terpotong menjadi dua bagian dan tewas dengan engerikan, karena pusaka ini. Jiang Zi Ya jadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis itu datanglag seorang Taoist dari pegunungan Gun Lun Shan (Kun Lun San-Hokkian) yang bernama Lu Ya. Lu Ya menyuruh Zi Ya membuat “Boneka dari rumput“. Pada badan boneka tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Dibagian kepala dipasang pelita kecil, demikian pula pada bagian kaki. Di depan boneka itu diadakan sembahayang selama 21 hari berturut2.

Zi Ya atas nasehat Lu Ya, bersembahyang di situ beberapa hari. Dia Terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar2, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangatnya luruh, begitu pula semua tenaganya. Pada hari yang ke 21, setelah mencuci rambutnya, Zi Ya mementang busur dan mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang mendadak merasa mata kirinya sakit sekali dan kemudian buta. Panah Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming dan panah ketiga di jantungnya. Dengan demikian Zhao Gong Ming yang sakti itu akhirnya tewas oleh lawan.

Setelah Wu Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang dan mendirikan Dinasti Zhou, Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan “Pelantikan Para Malaikat”. Zhao Gong Ming kemudian dianugerahi gelar Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun atau secara singkat disebut Zheng Yi Zhen Jun (Ceng It Cin Kun-Hokkian) atau Xuan Tan Zhen Jun (Hian Than Cin Kun-Hokkian). Xuan Tan Zhen Jun mempunyai empat pengiring yang disebut “Duta Dewa Kekayaan”, “Cai Shen Shi Zi”, yaitu :

1. Xiao Sheng yang bergelar Zhao Bao Tian Zun (Malaikat Pemanggil Pusaka).
2. Cao Bao yang bergelar Na Zhen Tian Zun (Melaikat Pemungut Benda Berharga).
3. Deng Jiu Gong yang bergelar Zhao Chai Shi Zi (Malaikat Pemanggil Kekayaan).
4. Yao Shao Si yang bergelar Li Shi Xian Guan (Pejabat Dewa Keuntungan).

Xuan Tan Zhen Jun bersama keempat pengiringnya ini seringkali ditampilkan secara bersamaan dalam bentuk gambar dan disebut Wu Lu Cai Shen (Ngo Lo Cay Sin-Hokkian) atau Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.

Di tempat pemujaan secara pribadi dalam rumah2 penduduk, seringkali Dewa Kekayaan ini ditampilkan sebagai seorang Panglima Perang berpakaian perang lengkap, wajahnya bengis, satu tangan menggenggam senjatanya yang berupa “Ruyung” dan tangan yang lain membawa “Sebongkah Emas“, mengendarai seekor “Harimau Hitam“. Ini merupakan pelukisan yang diambil daro novel Feng Shen itu.
******************************************************************

Selain versi Feng Shen ini, di dalam buku “Sanjiao Yuan Liu Shou Shen Da Chuan” atau “Koleksi Lengkap Asal Usul Dewa-Dewi aliran Sam Kauw”, disebutkan bahwa Xuan Tan adalah Zhao Yuan Shuai (Tio Goan Swee-Hokkian) atau Jenderal Zhao, yang bernama Gong Ming. Ia berasal dari Pegunungan Zhong Nan Shan (Ciong Lam San-Hokkian). Pada jaman Dinasti Qin (246 SM – 207 SM) ia meninggalkan kehidupan dunia dan pergi bertapa di Pegunungan Long Hu Shan, menggantikan Zhang Tian Shi (Thio Thian Su-Hokkian) yang berkuasa di situ. Kemudian Yu Huang Da Di memberikan kekuasaan besar, antara lain memerintah Tiga Lapisan Alam, mengadakan perondaan di lima penjuru dan memilih tokoh2 untuk memerintah sembilan benua.

Pengiring Zhao Yuan Shuai (Tio Guan Swee-Hokkian) sangat banyak. Ada yang disebut sebagai
Ba Wang Meng Jiang (Pat Ong Beng Ciang-Hokkian) yaitu “Delapan Panglima Gagah Berani”,
Liu Du Da Shen (Liok Taok Tay Sin-Hokkian) atau “Malaikat Besar yang memiliki enam racun”,
Wu Fang Lei Shen (Ngo Hong Lui Sin-Hokkian) atau “Malaikat Halilintar dari lima penjuru”,
Wu Fang Chang Bing (Ngo Hong Jiang Ping-Hokkian) atau “Prajurit ganas dari lima penjuru”,
Er Shi Ba Jiang (Ji Cap Pe Ciang-Hokkian) atau “Dua Puluh Delapan Panglima Perang”,
Shui Huo Er Ying (Cui Hwee Ji Ing-Hokkian) atau Dua kubu pasukan api dan air,
Thien He Er Jiang (Thian Ho Te Ho Ji Ciang-Hokkian) atau Dua Panglima keselarasan langit dan bumi”. Para pengiring ini bertugas antara lain mengusir angin atau mencurahkan hujan, membasmi kuman dan mengenyahkan penyakit, melindungi penderita sakit dan melenyapkan bencana, melaporkan apabila ada kesewenang2an dan melindungi usaha perdagangan, membagi kekayaan kepada yang berhak, agar terjadi keadaan yang tentram dan damai di dunia.

 

************************************************************
Ada lagi satu versi yang menyebutkan bahwa Cai Shen sebetulnya ada dua yaitu Sipil atau Wen Cai Shen dan Militer atau Wu Cai Shen. Yang dimaksud dengan Wen Cai Shen adalah Wen Chang Di Jun (Bun Jiang Te Kun-Hokkian). Menurut buku “San Jiao Sou Shen Da Chuan”, Wen Chang Di Jun menjelma ke dunia 17 kali dan semuanya sebagai pejabat tinggi yang berpangkat Shi Dai Fu. Ia suka menolong orang yang sedang dirundung kesusahan, memaafkan kesalahan dan sayang pada anak2 yatim piatu. Wen Chang Di Jun mempunyai baskom yang berisi bermacam benda berharga. Di atas baskom itu berdiri seorang anak lelaki yang disebut Yun Cao Tong Zi atau “Anak Penyalur Kekayaan”, yang menggenggam emas di tangan kanannya, kakinya menginjak tumpukan bunga karang (bunga karang dalam Bahasa Tionghoa adalah Sanhu, termasuk salah satu benda berharga di masa lalu).

Wen Cai Shen ditampilkan sebagai seorang berwajah putih dan berjenggot panjang, kepalanya memakai topi yang bertelinga panjang, bajunya merah bersulam, tangannya menggenggam “Ru Yi” (hiasan yang berbentuk jamur dan dianggap mengandung kekuatan gaib), wajahnya ramah dan memancarkan sinar kegembiraan. Seringkali Wen Cai Shen ini disebut sebagai Cao Bo Xing Jun atau Dewa Bintang yang menguasai kekayaan dan sandang.

Wu Cai Shen oleh sebagian orang disebut sebagai Zhao Gong Ming. Tapi ada pendapat bahwa sebetulnya Wu Cai Shen adalah Guan Gong atau Guan Di Jun (Kwan Te Kun-Hokkian). Inilah sebabnya banyak pedagang atau saudagar yang memuja Guan Gong di kantornya.

Pada kartu ucapan selamat tahun baru (Tahun Baru Imlek), biasanya terdapat gambar guci yang penuh dengan ratna mutu manikam dan lain benda berharga yang disebut Ju Bao Pen atau “Baskom Pengumpul Pusaka”. Kebiasaan menempelkan gambar ini berasal dari Cai Shen dalam versi lain yaitu Shen Wan San yang disebut Hou Cai Shen (Wa Cay Sin-Hokkian) atau Cai Shen yang hidup.

Shen Wan San (Sim Ban San-Hokkian), karena sewaktu masih hidup banyak menyumbangkan harta bendanya untuk kepentingan orang banyak dan untuk membangun ibu kota. Yu Huang Da Di mengangkatnya sebagai Dewa Pelindung kota Nan Jing, setelah ia meninggal. Shen Wan San sebetulnya berasal dari keluarga miskin papa, tentang bagaimana kemudian ia menjadi kaya raya, ada beberapa cerita sebagai berikut :

1. Menurut catatan dari Kabupaten Xiu Shui dikatakan bahwa Shen Wan San berhasil memanfaatkan harta karun yang diketemukan ayahnya di sebuah kebun yang terlantar di kota Su Zhou.

2. Menurut catatan dari Yun Jiao Guan disebutkan bahwa masa kecilnya Shen Wan San memang dilalui dengan kemiskinan. Suatu hari ia menemukan sebuah benda seperti telur dari batu yang mengeluarkan “sinar aneh” dari sungai. Oleh anaknya, benda itu dipungutnya dan di serahkan kepada ayahnya. Ternyata batu itu adalah sebuah batu permata yang harganya selangit. Karena itulah ia jadi kaya raya.

3. Pada suatu malam Shen Wan San sedang berbaring terlentang di atas perahu ikannya. Tiba2 ia melihat Bintang Utara jatuh. Ia buru2 memadahinya dengan karung kain dan ia memperoleh sebuah “Gantang”. Pada saat fajar, seorang tua yang diiringi tujuh orang tukang pikul datang menemuinya seraya berkata “Barang2 ini sementara kutaruh di tempatmu”. Setelah berkata begitu mereka lenyap. Isi pikulan yang ditinggalkan di situ ternyata potongan emas yang berbentuk “ladam”. Dari sinilah akhirnya ia menjadi orang kaya.

4. Dikatakan bahwa keluarga Shen Wan San mempunyai sebuah “Baskom Pusaka” yang dapat melipat gandakan apa saja yang dimasukkan ke dalamnya. Sebab itu ia jadi kaya.

 

********************************************************

*) Apapun, cerita di atas hanyalah Dongeng semata !

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,  

1 Comment

  1. perang dewa/i.
    ada juga filmnya dulu saya pernah tonton.
    sekarang coba cari di youtube ada tuh film perang dewa/i.

    namanya juga sejarah, bisa jadi betul, bisa juga hanya karangan orang. walau bagaimanapun cerita ribuan tahun, sedikit banyak akan ada biasnya.

    contoh nyata, yang sering nonton kuis “KEPO QUIS” di trans tv tiap malam jam 8. itu ada 1 sesi quis “pesan berantai”, dimana 1 orang bertugas mendengar sepenggal kalimat dari pembawa acara, lalu dibisikkan ke temannya yang dibelakang, begitu seterusnya sampai teman yang terakhir. teman terakhir itu kadang cuma sisa mendapatkan 2 kata saja hahaha… padahal aslinya ada 12 kata. lihat biasnya… bisa sampai sejauh itu, padahal kalimatnya baru dihafal kurang lebih 5 menit!

    yang penting ambil hikmahnya, apa yang bisa didapat dari cerita tersebut, untuk menambah pengetahuan kita, bukan mitos/ketahayulan kita.

    thx koh tjingwen sudah share!!!

    Reply

Leave a Reply