Bedah Mitos dan Tahayul

http://indonesia.siutao.com/tetesan

Oleh: Flyming Lika

Disadari atau tidak, kita-kita yang sembahyang ke klenteng atau umat klenteng / Tao pada umumnya, masih merasakan banyak hal yang dilarang, tapi tidak mengerti mengapa dilarang?

Malah sering kali justru mereka yang katanya agak mengerti tata cara sembahyangan menambahkan bumbu-bumbu larangan, yang menjadikan umat klenteng ini takut salah bertindak.

Ini sangatlah disayangkan karena kurangnya Wu (kesadaran & penggunaan nalar) untuk mengkoreksi sikap tindak yang membodohi umatnya.

Contoh A:
Habis Mai Song atau sembahyang ke kuburan / ke orang mati, dilarang ke klenteng sembahyang.

Ironis memang, kalimat diatas masih didengungkan untuk umat klenteng / umat Tao. Kalau kita mau Wu, dengan menggunakan kesadaran dan daya nalar kita, maka dengan mudah kalimat diatas adalah tidak benar dan tidak perlu dihiraukan.

Alasannya adalah:

  1. TAO adalah MAHA AGUNG MAHA TAO
  2. Para Dewa (Sen Ming) yang ada di klenteng sudah mendapatkan TAO Nya. Beliau-beliau ini boleh dikatakan sudah Sempurna Abadi. Tingkatannya jauh diatas manusia, roh, dan makhluk halus lainnya.
  3. Para Dewa adalah Welas Asih. Hanya mau menolong dan tidak menghukum & menjahati kita (manusia).
  4. Para Dewa-Dewi Tao tidak dipengaruhi atau bergantung pada ulah manusia.

Nah……….kalau kita umat klenteng / Tao sudah Sadar akan keberadaan Dewa-Dewi Tao kita yang welas asih tadi maka dalam kondisi apapun tidak ada pantangan; tidak ada larangan untuk masuk klenteng bersembahyang. Yang diutamakan adalah KETULUSAN HATI untuk sembahyang. Itu saja! Sedang tindakan kita tetap harus pakai Wu.

Misalnya:

  • Sesudah Mai Song, tidak masalah untuk mampir ke klenteng atau datang untuk sembahyang.
  • Sebelum atau sesudah sembahyang kuburan, juga tidak masalah mau / tidak mampir ke klenteng untuk sembahyang. Malah menurut pendapat penulis, kalau kuburannya jauh dari tempat tinggal kita maka dengan kita mampir sembahyang ke klenteng yang kita lewati, kita memohon perlindungan Dewa agar kita selamat sampai ke tempat tujuan. Dengan demikian kita selalu dekat dengan para Dewa-Dewi Tao niscaya kita akan selalu dilindungi. Apanya yang dilarang?

Contoh B :
Wanita datang bulan diarang masuk ke klenteng!!

Keterlaluan! Beginikah penjaga klenteng tersebut? Beginikah kita-kita yang mengerti Tao menjelaskan kepada umat Tao tentang wanita haid tidak boleh masuk klenteng? Apakah Dewa-Dewi Tao sekejam itu?

Sekarang jaman sudah berubah, peraturan ada yang masih kolot, tidak mau mengerti bahwa jaman sudah berubah, maka sangatlah disayangkan, bahkan Dewa-Dewi Tao pun tersenyum kecut kepada mereka yang kurang / tidak mengerti ini.

Contoh C :
Saat berkabung / berduka cita, altar sembahyang harus ditutup pakai kain apa?

Ada yang ditutup dengan kain putih dan ada yang menyuruh ditutup dengan kain merah. Bagaimana ini?

Semuanya itu sebenarnya hanyalah ungkapan hati manusia saat mengalami duka cita / berkabung. Kalau ditinjau dari Nalar sehat, Dewa-Dewi Tao tidaklah dipengaruhi atau marah dengan kain putih atau merah yang ditutupkan.

Mestinya………..wajar-wajar saja, sembahyang seperti biasa. Tidak perlu ditutup-pun sebenarnya tidak jadi masalah.

Meskipun berkabung, bukan berarti kita saat itu absen bersembahyang bukan?

Akhir kata : Janganlah Sembahyang menjadikan Beban Hidup kita, malah harus sebaliknya. Sembahyang menjadikan Ringan Penghidupan kita, dekat dengan para Dewa-Dewi Tao kita dan dapat menghadapi realita hidup dengan optimis dan ceria.

Salam Tao.

Tags: , , , , , , , , , , ,  

2 Comments

  1. Robby Arifin

    Salam sejahtera,
    Saya Robby Arifin, Seorang penganut Tao
    Saya sangat senang dan gembira setelah melihat
    satu blog yang menjelaskan dengan rinci tentang
    Tao.. Yang dilakukan tanpa rasa pamrih..
    Setelah saya membaca artikel ini.. kalau tak lancang
    bolehkah saya bertanya 1 hal?
    bukankah tidak semua yang kita sembahyangi di klenteng
    maupun di vihara.. adalah buddha yang kekal berada di nirvana? Bukankah seberapa adalah boddhisattva yang berada di alam hawa [alam di mana para dewa yang di masa hidup nya telah menerapkan tao di kehidupan sehari - hari atau melakukan kebaikan yang tiada tara sehingga para orang'' yang mengenalnya dan berhutang budi membuat patung dan menyembahnya, mereka namun belum sempat memohon jalan ketuhanan[siutao], sehingga suatu saat nanti ketika pahalanya telah habis, mereka akan direnkarnasikan kembali sebagai manusia, dengan diberikan jalan yang lebih mulus agar ketika saat itu dimudahkan untuk mendapatkan jalan ketuhanan [siutao]].
    Terutama di klenteng di mana orang-orang berkunjung ke sana untuk meminta seperti berupa panjang umur, rejeki, dan perlindungan.
    Yang berbeda dengan vihara di mana orang-orang juga ke sana untuk memohon jalan ketuhanan [siutao] dan berdoa untuk menunjukan rasa hormat kepada para dewa” dan mendengarkan dharma kelak bisa menambah kearifan dan aktivitas” Tao lain.
    Yang dicerminkan dengan tata cara kita bersembahyang yang juga berbeda. Mohon direspon, dan memberikan masukan dan kritikan
    Terima kasih

    Reply

  2. TCSTH,

    Hallo bro Robby, ada perbedaan pemahaman tentang pengertian SHEN/SHIEN dalam Ajaran Agama TAO dengan DEWA/DEWI dalam Ajaran Agama Buddha.

    SHEN/SHIEN atau yang lebih dikenal dengan istilah DEWA/DEWI di dalam pemahaman Agama TAO adalah mereka yang telah mencapai atau mendapatkan Kesempurnaan Tertinggi atau yang telah mendapatkan TAO-Nya.

    Hal ini berbeda dengan pemahaman DEWA/DEWI yang terdapat di dalam Ajaran Agama Buddha. Dimana DEWA/DEWI di dalam pemahaman Ajaran Agama Buddha adalah Tingkat Pencapaian ke Enam, satu tingkat di atas tingkatan manusia. Anda tentunya tahu tentang “Sepuluh Dunia”, dimana Tingkat Kesempurnaan Tertingginya ada di tingkatan yang ke Sepuluh, Tingkat KeBuddhaan.

    Dengan demikian hendaknya anda bisa membedakan antara Ajaran Agama TAO dengan Ajaran Agama Buddha. Jika anda mencoba untuk “mempersamakan”, maka yang terjadi adalah salah persepsi. Dimana anda “menangkap” Ajaran Agama TAO dari sisi “kacamata” Ajaran Agama Buddha.

    Jelasnya, pemahaman SHEN/SHIEN di dalam Ajaran Agama TAO adalah Tingkatan SHEN/SHIEN sama dengan Tingkatan BUDDHA.

    Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih.

    Salam Hangat TAO,
    Tjing Wen

    Reply

Leave a Reply