<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Bedah Mitos dan Tahayul</title>
	<atom:link href="http://www.xuezhengdao.com/518/bedah-mitos-dan-tahayul/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.xuezhengdao.com/518/bedah-mitos-dan-tahayul/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 17:07:37 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Tjing Wen</title>
		<link>http://www.xuezhengdao.com/518/bedah-mitos-dan-tahayul/comment-page-1/#comment-467</link>
		<dc:creator>Tjing Wen</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 14:38:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://xuezhengdao.com/?p=518#comment-467</guid>
		<description>TCSTH,

Hallo bro Robby, ada perbedaan pemahaman tentang pengertian SHEN/SHIEN dalam Ajaran Agama TAO dengan DEWA/DEWI dalam Ajaran Agama Buddha.

SHEN/SHIEN atau yang lebih dikenal dengan istilah DEWA/DEWI di dalam pemahaman Agama TAO adalah mereka yang telah mencapai atau mendapatkan Kesempurnaan Tertinggi atau yang telah mendapatkan TAO-Nya.  

Hal ini berbeda dengan pemahaman DEWA/DEWI yang terdapat di dalam Ajaran Agama Buddha. Dimana DEWA/DEWI di dalam pemahaman Ajaran Agama Buddha adalah Tingkat Pencapaian ke Enam, satu tingkat di atas tingkatan manusia. Anda tentunya tahu tentang &quot;Sepuluh Dunia&quot;, dimana Tingkat Kesempurnaan Tertingginya ada di tingkatan yang ke Sepuluh, Tingkat KeBuddhaan.

Dengan demikian hendaknya anda bisa membedakan antara Ajaran Agama TAO dengan Ajaran Agama Buddha. Jika anda mencoba untuk &quot;mempersamakan&quot;, maka yang terjadi adalah salah persepsi. Dimana anda &quot;menangkap&quot; Ajaran Agama TAO dari sisi &quot;kacamata&quot; Ajaran Agama Buddha.

Jelasnya, pemahaman SHEN/SHIEN di dalam Ajaran Agama TAO adalah Tingkatan SHEN/SHIEN sama dengan Tingkatan BUDDHA.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih.

Salam Hangat TAO,
Tjing Wen</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TCSTH,</p>
<p>Hallo bro Robby, ada perbedaan pemahaman tentang pengertian SHEN/SHIEN dalam Ajaran Agama TAO dengan DEWA/DEWI dalam Ajaran Agama Buddha.</p>
<p>SHEN/SHIEN atau yang lebih dikenal dengan istilah DEWA/DEWI di dalam pemahaman Agama TAO adalah mereka yang telah mencapai atau mendapatkan Kesempurnaan Tertinggi atau yang telah mendapatkan TAO-Nya.  </p>
<p>Hal ini berbeda dengan pemahaman DEWA/DEWI yang terdapat di dalam Ajaran Agama Buddha. Dimana DEWA/DEWI di dalam pemahaman Ajaran Agama Buddha adalah Tingkat Pencapaian ke Enam, satu tingkat di atas tingkatan manusia. Anda tentunya tahu tentang &#8220;Sepuluh Dunia&#8221;, dimana Tingkat Kesempurnaan Tertingginya ada di tingkatan yang ke Sepuluh, Tingkat KeBuddhaan.</p>
<p>Dengan demikian hendaknya anda bisa membedakan antara Ajaran Agama TAO dengan Ajaran Agama Buddha. Jika anda mencoba untuk &#8220;mempersamakan&#8221;, maka yang terjadi adalah salah persepsi. Dimana anda &#8220;menangkap&#8221; Ajaran Agama TAO dari sisi &#8220;kacamata&#8221; Ajaran Agama Buddha.</p>
<p>Jelasnya, pemahaman SHEN/SHIEN di dalam Ajaran Agama TAO adalah Tingkatan SHEN/SHIEN sama dengan Tingkatan BUDDHA.</p>
<p>Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih.</p>
<p>Salam Hangat TAO,<br />
Tjing Wen</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robby Arifin</title>
		<link>http://www.xuezhengdao.com/518/bedah-mitos-dan-tahayul/comment-page-1/#comment-466</link>
		<dc:creator>Robby Arifin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 19:39:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://xuezhengdao.com/?p=518#comment-466</guid>
		<description>Salam sejahtera,
Saya Robby Arifin, Seorang penganut Tao
Saya sangat senang dan gembira setelah melihat
satu blog yang menjelaskan dengan rinci tentang
Tao.. Yang dilakukan tanpa rasa pamrih..
Setelah saya membaca artikel ini.. kalau tak lancang
bolehkah saya bertanya 1 hal?
bukankah tidak semua yang kita sembahyangi di klenteng 
maupun di vihara.. adalah buddha yang kekal berada di nirvana? Bukankah seberapa adalah boddhisattva yang berada di alam hawa [alam di mana para dewa yang di masa hidup nya telah menerapkan tao di kehidupan sehari - hari atau melakukan kebaikan yang tiada tara sehingga para orang&#039;&#039; yang mengenalnya dan berhutang budi membuat patung dan menyembahnya, mereka namun belum sempat memohon jalan ketuhanan[siutao], sehingga suatu saat nanti ketika pahalanya telah habis, mereka akan direnkarnasikan kembali sebagai manusia, dengan diberikan jalan yang lebih mulus agar ketika saat itu dimudahkan untuk mendapatkan jalan ketuhanan [siutao]].
Terutama di klenteng di mana orang-orang berkunjung ke sana untuk meminta seperti berupa panjang umur, rejeki, dan perlindungan.
Yang berbeda dengan vihara di mana orang-orang juga ke sana untuk memohon jalan ketuhanan [siutao] dan berdoa untuk menunjukan rasa hormat kepada para dewa&#039;&#039; dan mendengarkan dharma kelak bisa menambah kearifan dan aktivitas&quot; Tao lain.
Yang dicerminkan dengan tata cara kita bersembahyang yang juga berbeda. Mohon direspon, dan memberikan masukan dan kritikan 
Terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam sejahtera,<br />
Saya Robby Arifin, Seorang penganut Tao<br />
Saya sangat senang dan gembira setelah melihat<br />
satu blog yang menjelaskan dengan rinci tentang<br />
Tao.. Yang dilakukan tanpa rasa pamrih..<br />
Setelah saya membaca artikel ini.. kalau tak lancang<br />
bolehkah saya bertanya 1 hal?<br />
bukankah tidak semua yang kita sembahyangi di klenteng<br />
maupun di vihara.. adalah buddha yang kekal berada di nirvana? Bukankah seberapa adalah boddhisattva yang berada di alam hawa [alam di mana para dewa yang di masa hidup nya telah menerapkan tao di kehidupan sehari - hari atau melakukan kebaikan yang tiada tara sehingga para orang'' yang mengenalnya dan berhutang budi membuat patung dan menyembahnya, mereka namun belum sempat memohon jalan ketuhanan[siutao], sehingga suatu saat nanti ketika pahalanya telah habis, mereka akan direnkarnasikan kembali sebagai manusia, dengan diberikan jalan yang lebih mulus agar ketika saat itu dimudahkan untuk mendapatkan jalan ketuhanan [siutao]].<br />
Terutama di klenteng di mana orang-orang berkunjung ke sana untuk meminta seperti berupa panjang umur, rejeki, dan perlindungan.<br />
Yang berbeda dengan vihara di mana orang-orang juga ke sana untuk memohon jalan ketuhanan [siutao] dan berdoa untuk menunjukan rasa hormat kepada para dewa&#8221; dan mendengarkan dharma kelak bisa menambah kearifan dan aktivitas&#8221; Tao lain.<br />
Yang dicerminkan dengan tata cara kita bersembahyang yang juga berbeda. Mohon direspon, dan memberikan masukan dan kritikan<br />
Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

