Apakah Moral = Spiritual ???

Apakah Moral = Spiritual ???

Diambil dari arsip diskusi di http://siutao.com

Diskusi antara SHAN MAO, DaoRen, Cookies, Progress & Fu_Shi, pada Januari 2005.

Selama ini banyak yang berkata2 tentang MORAL dan SPIRITUAL, tapi apa arti dari kata2 itu yang sebenarnya ?

Moral tidak sama dengan Spiritual.
Moral lebih kepada hubungan yang horizontal (kesamping/sejajar), sedangkan Spiritual lebih kepada hubungan yang transversal (keatas).    Moral lebih berkenaan dengan sikap ; perilaku, serta kepribadian kita terhadap hubungan antar sesama umat manusia, bisa terlihat serta diamati hanya dengan “mata telanjang”.    Sedangkan Spiritual berkenaan dengan sikap serta perilaku kita terhadap Tuhan dan/atau Shen/Shien ataupun mahluk dari dimensi lainnya.

Orang yang bermoral belum tentu ia seorang yang menjalankan spiritual (beragama), misalnya orang2 atheis atau para pengikut aliran humanis.    Mereka semua tidak percaya akan adanya Tuhan, Shen/Shien ataupun mahluk dari dimensi lainnya dan hanya percaya pada kekuatan manusia semata2.

Akan tetapi mereka justru belum tentu hidup secara tidak bermoral di dalam kehidupan sehari2nya, mereka bahkan ada yang lebih baik dibandingkan dengan orang2 yang justru menjalankan spiritual (orang yang beragama).    Demikian pula sebaliknya, orang yang beragama, juga belum tentu bermoral, walaupun seharusnya mereka telah memiliki moral yang baik.

Kenyataanya pada jaman sekarang ini, justru banyak orang yang mengaku sebagai orang2 yang taat beragama, tapi malahan sangat “tidak bermoral” !!!    Sebagai contoh : bahwa seseorang yang pada kenyataannya sangat rajin beribadah, ternyata rajin juga berkorupsi ; menipu orang lain ; doyan buang hajat di sarang maksiat ; kepala sudah botak masih saja doyan duit ; nama ; jabatan dan lain sebagainya.

Pertanyaannya : Kenapa bisa sampai demikian parahnya ??? Apanya yang salah ? Lebih penting yang mana, pendidikan moral atau spiritual ?

Supaya berhasil di dalam SIUTAO-nya, maka sebaiknya belajar berMoral dulu, ataukah langsung dicekokin dengan dokma2 tentang Ajaran Agama (Spiritual) sejak masih kecil ?

Tentunya, untuk bisa berhasil dalam SIUTAO, sebaiknya dimulai dari pendidikan tentang moralitas, baru kemudian pendidikan spiritualnya.   Sebab bagaimana seseorang yang tidak bermoral dapat SIUTAO, sedangkan salah satu tujuan dari SIUTAO itu adalah menjadi orang yang bermoral menuju ke CEN SAN MEI !!!

Pendidikan spiritual itu juga sangat penting, karena merupakan penunjang/pendamping di dalam meningkatkan moralitas kita sebagai “Manusia”, MORAL + SPRITUAL ====> SIUTAO.

Pengajaran tentang “Moral”sebaiknya diterapkan “sejak dini” (sejak masih kecil), kenapa ??? Anak2 lebih mudah menyerap pendidikan moral (dibanding jika setelah dewasa), yang tentu dapat menjadi modal serta kerangka berpikirnya ketika anak itu beranjak dewasa.

Agama TAO mengandung Ajaran Moral dan Spiritual yang lengkap, kita selalu dianjurkan untuk belajar menjadi manusia yang baik serta yang bermoral terlebih dahulu, sambil bersamaan juga belajar mendekatkan diri kepada Shen/Shien untuk menuju kesempurnaan.

Orang2 yang dasarnya kurang bermoral, bisa belajar untuk jadi bermoral, itupun kalau orangnya mau sadar.    Supaya bisa sadar, yah… mestinya harus ada contoh yang sungguh2, yang sering bisa dia lihat dan bisa diukur dengan standard yang ada didalam masyarakat.    Selain itu, yah… harus ada supremasi hukum dan perangkatnya yang bisa memberikan ganjaran sesuai dengan rasa keadilan, yang minimal berlaku di dalam masyarakat atau di dalam sebuah negara.

Prinsipnya, manusia seharusnya memupuk terlebih dahulu “Moral”nya, agar bisa menghormati sesama manusia, takut berbuat salah terhadap sesama manusia, kemudian baru bisa mendalami Agama/Spiritual secara baik dan benar.

Lho kenapa demikian ? Kenapa bukannya dibalik saja, takut kepada TAO/Tuhan/Thien dulu donk, baru bisa punya moral yang tinggi ?

Kalau takut kepada TAO/Tuhan/Thian dulu baru melaksanakan moral, orang tersebut pastinya tidak akan melaksanakan “Moral” dengan sungguh2 dan/atau tidak dengan kesadarannya sendiri.    Tapi ia melakukan “Moral”nya itu sekedar hanya karena takut akan mendapat hukuman dari TAO/Tuhan/Thian (ada unsur keterpaksaan).

Akan tetapi jika “Moral” terlebih dahulu yang diutamakan, tanpa perlu takut akan TAO/Tuhan/Thian, orang tersebut sudah pasti akan melaksanakan moral itu secara sadar dan penuh kerelaan hati (unsurnya suka rela).

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,  

Leave a Reply